Wali Allah Swt
Wali Allah adalah orang yang mendekat dan
menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah:“Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hatai. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu
bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-64). Menurut Ibnu Katsir: Allah Ta’ala
menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan
bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu
Katsir). Syaikh Ibnu Utsaimin juga menjelaskan, wali Allah adalah
orang-orang yang beriman dan bertaqwa, merealisasikan amal sholih… (Syarah
Riyadhus Shalihin). Ibnu Taimiyah: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman
kepada Rasulullah Saw, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara
lahir dan batin….” (Al-Furqon). Tingkat “kewalian” dalam diri seseorang
mukmin sesuai dengan tingkat keimanannya. Para wali Allah yang paling tinggi
tingkat kewaliannya adalah para nabi dan rasul. Menurut Imam Asy-Syafi'i:
"Jika kalian melihat seseorang yang mampu berjalan di atas air dan terbang
di angkasa, maka janganlah kalian tertipu olehnya, sehingga kalian serahkan
urusannya kepada Al-Qur'an dan As-Sunah. (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah).
Maksudnya, jika tingkah laku sehari- hari orang tersebut sesuai dengan dengan
Al Qur'an dan As Sunah, maka ia adalah seorang wali Allah, tetapi jika tidak
sesuai, maka ia adalah seorang wali setan. Wali yang kita kenal antara lain
Wali Songo (Wali Sembilan), yaitu para ulama, da'i, atau penyebar Islam di
tanah Jawa. Mereka menolong agama Allah dengan menyebarkan risalah Islam.
Mereka juga ditolong Allah sehingga menjadi manusia mulia dalam pandangan
manusia (umat Islam) dan pandangan Allah SWT.
Setiap rasul mengandung sifat kerasulan,
kenabian, dan kewalian. Hanya saja setelah Nabi Muhammad SAW, sifat kenabian
dan kerasulan tertutup. Pintu terbuka hingga kini adalah kewalian. Sifat
kewalian ini yang masih melekat pada beberapa orang di tengah-tengah kita. Kalau
para nabi dan rasul bersifat makshum (terjaga dari maksiat), maka para
wali Allah bersifat mahfuzh (selalu dalam bimbingan Allah baik dalam taat
maupun dalam khilaf).
Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa Allah
menyatakan sebagian wali-Nya dan menyembunyikan sebagian lain di tengah
masyarakat. Tetapi semua wali-Nya menjadi tanda bagi masyarakat atas
kehadiran-Nya.
قال رضي الله عنه سبحان من لم يجعل الدليل على
أوليائه إلا من حيث الدليل عليه ولم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصله إليه
Artinya, “Mahasuci Allah yang tidak menjadikan
tanda bagi para wali-Nya selain tanda yang menunjukkan ada-Nya. Mahasuci Allah
yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki
sampai kepada-Nya.”
Lalu bagaimana kita dapat mengerti kehadiran
wali Allah? Ini yang sulit. Pasalnya, para wali juga manusia biasa seperti
hamba Allah lainnya. Hal ini tercantum pada keterangan Syekh Ibnu Abbad berikut
ini.
وسمعته يقول
يعنى شيخه أبا العباس رضي الله عنه يقول معرفة الولي أصعب من معرفة الله فإن الله
معروف بكماله وجماله وحتى ومتى تعرف مخلوقا مثلك يأكل كما تأكل ويشرب كما تشرب
وقال فيه وإذا أراد الله أن يعرفك بولي من أوليائه طوى عنك وجود بشريته وأشهدك
وجود خصوصيته اهـ
Artinya, “Aku (Syekh Ibnu Athaillah) mendengarnya (maksudnya adalah gurunya),
Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Mengenal wali lebih sulit dari mengenal
Allah. Allah dapat dikenali dengan kesempurnaan dan keindahan-Nya. tetapi kapan
kau bisa mengenali tanda wali, makhluk sepertimu. Ia makan sebagaimana kamu
makan, ia minum sebagaimana kamu minum.’ Ibnu Athaillah berkata di Latha’iful
Minan, ‘Kalau Allah menghendakimu kenal dengan salah satu walinya, Allah
melipat unsur manusiawinya di matamu dan Allah memperlihatkanmu
keistimewaannya,’”
(Lihat
Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa
catatan tahun, juz II, halaman 2). Meskipun demikian, secara umum para wali
dapat teridentifikasi. Minimal mereka mengandung tiga sifat berikut ini
sebagaimana keterangan Syekh Zarruq.
ثم الولي يعرف
بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق
Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan tiga tanda: mengutamakan
Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi
Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam,
As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133). Meskipun Syekh Zarruq
menyebutkan demikian, kita tetap sulit menunjuk hidung siapa wali Allah di
tengah kita. Mereka beribadah sebagaimana kita. Mereka juga kadang berbuat
khilaf seperti kita. Mereka berpakaian seperti kita. Mereka juga entah apa
profesi kesehariannya. Hanya bedanya, mereka terjaga dari penyakit batin dan
mereka menjaga adab kepada Allah saat berbuat taat maupun saat berbuat maksiat
karena kuasa-Nya atas bimbingan-Nya.[1]
Siapakah wali Allah?
Wali artinya dekat. Wali Allah adalah orang
yang dekat dengan Allah azza wa jalla. Kewalian seseorang bertingkat sesuai
dengan amal shalihnya. Allah berfirman:
(أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُون
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu,
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” [Surat
Yunus 62 – 63][2]
Oleh karena itu menurut ulama, wali itu adalah:
من كان مؤمنا تقيا كان لله وليا
Orang yang beriman dan bertaqwa maka dialah
wali Allah
Kewalian itu
bukanlah soal tampilan lahir yang berbeda dengan umumnya manusia. Hakikat
kewalian adalah kedekatan, keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Firman Allah dalam hadits qudsi:
مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ،
وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ
عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى
أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ،
وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ،
وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ،
وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ»
“Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku
mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari
seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku
wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah,
niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi
pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia
melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang
dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan
dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta
perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi.”
Wali Allah
memiliki 2 tingkatan:
1.
Tingkat
pertengahan
Orang yang
menjalankan kewajiban agama dan meninggalkan yang haram.
أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ
رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى
ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .
“bahwa seseorang pernah bertanya kepada
Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat
yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang
haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk
surga?” Beliau menjawab, Ya.” (HR. Muslim).
2.
Tingkat Tinggi
Orang-orang
yang senantiasa beriltizam mengerjakan amalan-amalan Sunnah setelah yang wajib
Para Ulama
adalah para wali Allah.
Imam Syafi’i berkata:
إن لم يكن العلماء العاملون أولياء الله، فليس
لله ولي!
Bila ulama yang mengamalkan ilmunya bukan wali
Allah maka tidak ada wali Allah!
Jelas bahwa para ulama adalah para wali Allah.
Rasulullah bersabda:
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ
الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ
الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا
إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding
seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang.
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak
mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa
mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”
Tanda kewalian
seseorang adalah melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan. Kewajiban
terbesar adalah shalat 5 waktu. Maka wali Allah adalah yang menjaga shalat 5
waktu di masjid. Bila ada yang mengaku wali namun tidak pernah shalat di
masjid, maka jelas dia bukan wali!
Allah berfirman:
{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ}
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu
yang diyakini (ajal) [الحجر : 99]
Allah Juga berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ}
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [آل عمران : 102] Sehingga jelas
keliru bila ada yang mengaku wali namun tidak shalat, tidak pergi haji ke
Ka’bah karena katanya ka’bahnya yang mendatangi walinya. Ini adalah khurafat
yang jelas penyimpangannya![3]
Daftar
Pustaka
Abdu, Misa, Al-Khusyu’ fish Shalah
wa Asraruhu, terj. Jujuk Najibah Ardianingsih, Menjernihkan Batin dengan Shalat
Khusyu’, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2005
Ahyadi, Abdul Azizi, Psikologi Agama
Kepribadian Pancasila, Bandung: Sinar Baru, 1987
Abdullah, Sahawiyah, Model Pelayanan
dan Rehabilitasi Terpadu bagi Korban Penyalahgunaan NAPZA, Jakarta: Departemen
Sosial RI, 2002
[1]Abdul Azizi Ahyadi, Psikologi
Agama Kepribadian Pancasila, Bandung: Sinar Baru, 1987. Hlm.78.
[2] Misa Abdu, Al-Khusyu’ fish Shalah
wa Asraruhu, terj. Jujuk Najibah Ardianingsih, Menjernihkan Batin
dengan Shalat Khusyu’, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2005. Hlm. 57.
[3] Sahawiyah Abdulah, Model Pelayanan
dan Rehabilitasi Terpadu bagi Korban Penyalahgunaan NAPZA, Jakarta: Departemen
Sosial RI, 2002. Halm.80.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar