Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2022

TUHAN DALAM AJARAN ISLAM

 TUHAN DALAM AJARAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

 

Dilihat dari perspektif sejarah kemanusiaan, hampir semua umat manusia memiliki kepercayaan adanya Tuhan yang megatur alam ini.Orang-orang Yunani Kuno dengan paham politeismenya meyakini binttang adalah Tuhan (dewa),Venus adalah tuhan (dewa) kencantikan,Mars adalah  dewa peperangan, minerva adalah adalah dewa kekayaan, sedangkn tuhan tertingginya adalah Apollo atau dewa Matahari. Orang-orang Hindu masa lampau juga mempunyai banyak dewa yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Orang-orang Mesir juga tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya Dewa Iziz, Dewa Oziris, dan yang tertinggi adalah Dewa Ra’. Masyarakat Persis percaya adanya Tuha gelap dan Tuhan Terang. Pengaruh keyakinan ini terus merambah dalam masyarakat Arab, yang walaupun ketika mereka ditanya tentang penguasa dan pencipta langit dan bumi mereka menjawab “Allah”, tetapi pada saat yang sama mereka juga menyembah berhala-berhala seperti  Al-Lata, Al-‘Uzza,dan Manata, tiga berhala terbesar mereka disamping ratusan berhala lainny.

Menurut Quraish Shihab, Islam lahir dan datang untuk meluruskan keyakinan-keyakinan tersebut,dengan membawa ajaran tauhid. Karena ajaran tauhid yang dibawa , Islam sering disebut sebagai agama monoteisme ( paham satu Tuhan ). Monoteisme Islam menitikbertkan pada Zat Tuhan yang murn keesaannya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pandangan islam tentang Tuhan. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam menjelaskan  bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan.


BAB II

PEMBAHASAN

TUHAN DALAM AJARAN ISLAM

 

A.      Tuhan dalam Islam

Apakah Tuhan dalam Islam itu ? Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah[1]. Ia disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 2500 kali,di luar penyebutan tentang subtansi-Nya seperti al-Rabb atau al-Rahman. Al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat mendefinisaikan kata “Allah” sebagai nama yang merujuk kepada Tuhan yang sebenarnya (al-Ilah al-haqq), yang merupakan kumpulan makna bagi seluruh nama-nama-Nya yang baik ( al-asma al-husna).[2]

Sementara itu, Toshihiko Izutsu secara semantik menjelaskan bahwa “Allah” merupakan kata fokus tertinggi dalam sistem Al-Qur’an. Pandangan Teosentrik Al-Qur’an ini telah membuat konsep tentang Allah menjadi mengusai keseluruhan kandungan Al-Qur’an. Hingga masa nabi Muhammad berdakwah, orang-orang Arab Pagan telah memiliki kepercayaan yang kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi. Pada masa ini kata “Allah” merupakan makna dasar ketuhanan. Kata ini kemudian dibawa masuk oleh sistem islam sehingga Al-Qur’an menggunakannya sebagai nama Tuhan dalam wahyu Islam.Tuhan dalam konteks ini dipahami sebagai dimensi-dimensi lain. Dia memberikan arti dalam kehidupan kepada setiap sesuatu. Dia serba meliputi. Dia adalah tak terhingga, dan hanya Dialah yang tak terhingga.

Menurut Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa al-falsafah, keyakinan kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha mengetahui ,Maha Bijaksana, dan Maha lainnya merupakan aqidah Islamiyah tentang ketuhanan.[3] Aqidah ini menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Alam ini adalah ciptaan_Nya, yang diciptakan dari tidak ada. Selanjutnya dijelaskan Musa bahwa aqidah islamiyah ini apabila dilihat dari sudut filsafat akan menemukan adanya dua wujud, yaitu wujud abadi dan wujud zamani.[4]

Wujud abadi adalah wujud yang Maha Sempurna secara mutlak. Wujud ini ada berkat kekuasaan-Nya. Sifat abadi dalam wujud ini adalah pasti menurut akal. Hanya wujud inilah yang tidak mustahil menurut akal, karena akal akan mengimajinasikan keabadian itu tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa bagaimana (kaifa) dan bandingan dengan sesuatu yang lain. Sementara wujud zamani adalah alam ini yang ada secara sementara . Adanya alam terikat oleh zaman. Oleh karenanya zaman bukanla sesuatu yang kekal. Keyakinan bahwa zaman itu abadi merupakan kekacauan berpikir. Sementara itu, Abu Al-‘Ainain menambahkan bahwa keimanan kepada Allah merupakan fondasi segala sesuatu.

Keimanan ini terkumpul dalam kalimah al-aqidah al- Islamiyah yang sering disebut dengan kalimat tauhid, yaitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Ucapan ini secara esensi mengandung dua keyakinan, uluhiyah dan nubuwwah. Uluhiyah artinya keyakinan hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, dan nubuwwah artinya meyakini kebenaran risalah Muhammad. Konsep ketuhanan ini dalam Islam merupakan dasar segala keyakinan yang dijelaskan Al-Qur’an dengan jelas,yang membuat seorang muslim tidak ada alasan untuk tidak mengetahuinnya.[5]

Konsep Laa ilaaha illallah, banyak kita temukan dalam al-Qur’an, diantaranya, Dalam surah Muhammad : 19, Allah telah menyatakan “ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah” Dalam surah Thaha:13-14, Allah berfirman, “ Aku memilihmu, maka perhatikan apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesunggunya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain-Ku. Karena itu, sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku”. Ayat ini merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Dari beberapa ayat tersebut, nampak jelas bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah.

Selain terdapat dalam Al-Qur’an, konsep Laa ilaaha illallah  juga terdapat dalam beberapa hadis. Diantaranya, dari ‘Abd Allah ibn Abi Qotadah dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda, siapa yang mengucap, ‘Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’, dengan lisannya, dan dengan ini qalbunya tentram, niscaya ia diharamkan menghuni neraka. Riwayat lain, dari Mu’ad ibn Jabal meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya Laa Ilaaha Illallah lalu meninggal Dunia, niscaya ia masuk surga.[6]

 

B.       Filsafat Ketuhanan dalam Islam

1.        Siapakah Tuhan itu?

Perkataan ilah, yang diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS 45 (Al-Jatsiiyah): 23, yaitu:

|M÷ƒuätsùr& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿxœ ¾ÏmÎ7ù=s%ur Ÿ@yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎŽ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmƒÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 Ÿxsùr& tbr㍩.xs? ÇËÌÈ  

 

Artinya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya….?”

Dalam QS 28 (Al-Qashash):38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri:

tA$s%ur ãböqtãöÏù $ygƒr'¯»tƒ _|yJø9$# $tB àMôJÎ=tã Nà6s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ÎŽöxî

Artinya:

“Dan Fir’aun berkata: Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”

Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna:ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut:

Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.[7]

Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.

Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:

Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya[8]

Atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.[9]

 

C.      Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu

Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.[10]

Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam:

a.       QS 21 (Al-Anbiya): 92

¨bÎ) ÿ¾ÍnÉ»yd öNä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏmºur O$tRr&ur öNà6š/u Âcrßç7ôã$$sù ÇÒËÈ  

Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka.

Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan konsep tentang  ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.

Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.[11]

b.      QS 5 (Al-Maidah):72

( tA$s%ur ßxŠÅ¡yJø9$# ûÓÍ_t7»tƒ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) (#rßç6ôã$# ©!$# În1u öNà6­/uur ( ¼çm¯RÎ) `tB õ8ÎŽô³ç «!$$Î/ ôs)sù tP§ym ª!$# Ïmøn=tã sp¨Yyfø9$# çm1urù'tBur â$¨Y9$# (

 

Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah neraka.

c.       QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4,

 

ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  

Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Kata Allah adalah nama isim jumid atau personal name. Merupakan suatu pendapat yang keliru, jika nama Allah diterjemahkan dengan kata “Tuhan”, karena dianggap sebagai isim musytaq.[12]

Tuhan yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain dalam surah Ali Imran ayat 62,”Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah Yang Maha Kuasa lagi Maha bijaksana”. Surah Shad ayat 65,” Katakanlah (ya Muhammad),sesungguhnya Aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada Tuhan selain Allah yang maha Esa dan Maha mengalahkan”. Surah Muhammad ayat 19,” Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin, laki-laki dan perempuan, Dan allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu

Dalam al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surah Hud ayat 84,” Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka ,Syu’aib .Ia berkata ,”,Hai kaumku ,sembahlah Allah , sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia...” dan surah al-Maidah ayat 72, sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata ,sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam,,padahal al-Masih sendiri berkata “Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanm”u. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah neraka,tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang pnolong pun.

Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Ankabut ayat 46,” Katakanlah kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu ;dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”. Dan  surah Thaha ayat 98,” Sesungguhnya Tuhan-mu hanyalah Allah ,yang tidak Ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian.[13]

Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya.Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang bersumber dari al-quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan praktik menjalani kehidupan.[14]

 

D.      Argumen-argumen Adanya Tuhan

Pembahasan tentang eksistensi Tuhan secara filosofis sebenarnya menuntut pembuktian yang berdasarkan nalar. Inilah yang menjadi perdebatan kaum filsuf, kaum teolog dan kaum sufi. Menurut Amin Abdullah, perdebatan antar ketiganya dalam tradisi keilmuan Islam begitu sengit sehingga tak jarang terjadi saling mengkafirkan, memurtadkan dan mensekularkan. Perdebatan terjadi karena epistemologi yang digunakan ketiganya berbeda. Dengan mengikuti kerangka ilmu filsafat ilmu Mohammad Abid Al-Jabiri, kaum filosofis menerapkan epistemologi burhani yang bersumber dari akal, kaum ushuliyyin menggunakan epistemologi bayani yang bersumber dari teks, sementara kaum sufi menerapkan epistemologi irfani yang lebih menekankan pada intuisi. [15]

Beberapa argumen yang dikemukakan oleh para filsuf dengan argumaen burhani-nya, berkaitan dengan eksistensi Tuhan adalah sebagai berikut :

1.        Al-Kindi seorang filsuf Arab (w.sekitar 866 M) dengan argumen kebaruan (dalil al-huduts) nya. Ia mengatakan bahwa alam semesta ini betapapun luasnya adalah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mmungkin memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, alamyang terbatas ini tidak mungkin bersifat azali ( tidak mempunya awal). Ia mesti memiliki titik awal dalam waktu, dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu.jika materi,gerak dan waktu dari alam ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (hudust). Segala sesuatu yang baru bagi Al-Kindi pasti dicipta (muhdats ). Kalau alam dicipta maka memunculkan adaya pencipta. Itulah Tuhan sebagai sebab pertama. Dalam kajian filsafat argumen kebaruan Al-Kind disebut dengan argumen kosmologi,yang menggunakan hukum “sebab-akibat”.[16]

2.        Ibnu Sina (w. 1037 M) melalui argumen kemungkinan ( dalil al-jawaz) atau kontingesi. Ia membagi wujud dalam tiga kategori ; Wujud Niscaya (wajib al-wujud) adalah wujud yang senantiasa harus ada dan tidak boleh tidak ada, wujud mungkin (mumkin al-wujud) adalah wujud yang boleh saja ada atau tiada, dan wujud mustahil (mumtani al-wujud) adalah wujud yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal. Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan wujud yang boleh ada, alam bukan wujud niscaya, namun karena alam juga boleh tidak ada maka dapat dikatakan wujud mustahi. Akan tetapi nyatanya bumi ini ada maka dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” adalah potensial,kebalikan dari aktual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya,berarti sifat dasar alam adalah potensial,boleh ada dan tidak bisa mengada dengan sendirinya. Karena alam ini potensial, ia tidak mungkin ada (mewujud) tanpa adanya sesuatu yang telah aktual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi aktualitas. Itulah tuhan yang wujud niscaya. Argumen kemungkinan ini sering disebut dalil ontologi karena pendekatannya menggunakan filsafat wujud.[17]

3.        Ibnu Rusyd (w. 1198 M) dengan argumen rancangan (dalil al-inayah)nya. Dengan pemikiran rasional-religiusnya berpendapat bahwa perlengkapan (fasilitas) yang ada di alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Hal ini merupakan bukti adanya Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Melalui  “rahmat” yang ada di alam ini, membuktikan bahwa Tuhan ada. Selain itu penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya khidupan organik, persepsi indrawi,dan pengenalan intelektual merupkan bukti lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian. Penciptaan ini secara rasional bukanlah suatu kebetulan, melainkan haruslah dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan kebetulan dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Oleh karena berdasarkan pandangan adanya keserasian Tuhan, konsep Tuhan menurut Ibnu Rusyd ini sering disebut pandangan teleologis.[18]

 

E.       Implikasi Konsep Tuhan bagi Filsafat Pendidikan Islam

Beberapa konsepsi Islam tntang Tuhan kiranya mempunyai dampak dan implikasi pedagogis yang perlu diperhatikan dunia pendidikan Islam. Implikasi-implikasi tersebut sebagai berikut.

1.        Allah sebagai Pencipta hendaknya dikenal ,diketahui,dan diyakini manusia melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Eksistensi Tuhan seperti ini harus dipahami adanya sebagai tujuan utama pendidikan Islam. Ini merupakan unsur iman (akidah) dalam filsafat pendidikan Islam.

2.        Allah sebagai Rabb mengandung arti bahwa Allah adalah pengatur dan pemelihara alam semesta ini. Allah sebagai Rabb ini telah menentukan beberap aturan (sunatullah) yang perlu diperhatikan manusia. Manusia tunduk terhadap aturan-aturan ini ,dan wajib mengikutinya dalam kehidupa sehari-hari. Ini merupakan unsur Islam (syariah) dalam filsafat pendidikan Islam.

3.        Allah sebagai Pencipta memiliki beberpa sifat yang disebut al-asma al-husna. Sifat-sifat ini hendaknya dapat ditransformasikan dalam dunia pendidikan Islam,dalam rangka mewujudkan manusia sebagai khilafah yang bertugas mengemban amanat Allah di bumi. Sifat –sifat ini sedemikian rupa dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan unsur ihsan (akhlak) dalam filsafat pendidikan Islam.

4.        Melalui argumen kosmologi, filsafat pendidikan Islam mengandalkan keterbatasan menuasia sebagai makhluk. Keterbatasan ini mengindikasikan adanya tjuan jangka pendek dan jangka panjan bagi pendidikan Islam.

5.        Melalui argumen ontologi, filsafat pendidikan Islam mengasumsikan bahwa manusia sebagai wujud mungkin memiliki beberapa potensi. Potensi-potensi  ini sedemikian rupa dikembangkan oleh Pendidikan Islam sehingga menjdi aktual, yang bermanfaat bagi kehidupnnya.

6.        Melalui argumen teleologi, filsafat pendidikan Islam memformulasikan bahwa alam semesta dirancang Allah sebagai fasilitas bagi kehidupan manusia. Fasilitas ini harus senantiasa dikembangkan melalui kreasi dan kreasivitas sehingga memunculkan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar manusia dapat merancang hidupnya.[19]

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah. Toshihiko Izutsu secara semantik menjelaskan bahwa “Allah” merupakan kata fokus tertinggidalam sistem Al-Qur’an. Menurut Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa al-falsafah, keyakinan kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha mengetahui ,Maha Bijaksana, dan Maha lainnya merupakan aqidah Islamiyah tentang ketuhanan.Sementara itu, Abu Al-‘Ainain menambahkan bahwa keimanan kepada Allah merupakan fondasi segala sesuatu. Keimanan ini terkumpul dalam kalimah al-aqidah al- Islamiyah yang sering disebut dengan kalimat tauhid, yaitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah.

Konsep Laa ilaaha illallah, banyak kita temukan dalam al-Qur’an, diantaranya, Dalam surah Muhammad : 19 dan surah Thaha:13-14

Selain terdapat dalam Al-Qur’an, konsep Laa ilaaha illallah  juga terdapat dalam beberapa hadis. Diantaranya, dari ‘Abd Allah ibn Abi Qotadah dari ayahnya, dan riwayat Mu’ad ibn Jabal.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahim, dkk, Kuliah Tauhid, Yayasan Sari Intan, Jakarta, 1989

 

Ali Abul Hasan. 1998. Prinsip- Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam,terj. H.A Nasir yusuf dan Karsidi Dininggrat. Cet. I ;Bandung : CV. Pustaka Setia.

 

Hanafi , Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990

 

Suharto Toto. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

 

Sukring. 2013. Pendidikan Agama Islam. Kendari : Kaubaka Pressindo.



[1] Dr. Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media,2014), hal.54

[2]Ibid., hal 54

[3] Ibid., hal 56

[4] Ali Abul Hasan. 1998. Prinsip- Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam,terj. H.A Nasir yusuf dan Karsidi Dininggrat. Cet. I ;Bandung : CV. Pustaka Setia., hal 21           

[5] Ibid., hal 23

[6] Ibid., hal 28

[7] Sukring. 2013. Pendidikan Agama Islam. Kendari : Kaubaka Pressindo., hal 12

[8] Ali Abul Hasan. 1998., Op.,Cit., hal 33

[9] Ibid., hal 39

[10] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990., hal 19

[11] Ibid., hal 23

[12] Abdurrahim, dkk, Kuliah Tauhid, Yayasan Sari Intan, Jakarta, 1989., hal 11

[13] Ibid., hal 19

[14] Ahmad Hanafi., Op.,Cit., hal 29

[15] Ibid., hal 33

[16] Sukring., Op.,Cit., hal 19

[17] Ibid., hal 22

[18] Abdurrahim, Op.,Cit., hal 22

[19] Ibid., hal 29

ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...