TUHAN DALAM AJARAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
Dilihat dari perspektif
sejarah kemanusiaan, hampir semua umat manusia memiliki kepercayaan adanya
Tuhan yang megatur alam ini.Orang-orang Yunani Kuno dengan paham politeismenya
meyakini binttang adalah Tuhan (dewa),Venus adalah tuhan (dewa) kencantikan,Mars
adalah dewa peperangan, minerva adalah
adalah dewa kekayaan, sedangkn tuhan tertingginya adalah Apollo atau dewa
Matahari. Orang-orang Hindu masa lampau juga mempunyai banyak dewa yang
diyakini sebagai tuhan-tuhan. Orang-orang Mesir juga tidak terkecuali. Mereka
meyakini adanya Dewa Iziz, Dewa Oziris, dan yang tertinggi adalah Dewa Ra’.
Masyarakat Persis percaya adanya Tuha gelap dan Tuhan Terang. Pengaruh
keyakinan ini terus merambah dalam masyarakat Arab, yang walaupun ketika mereka
ditanya tentang penguasa dan pencipta langit dan bumi mereka menjawab “Allah”,
tetapi pada saat yang sama mereka juga menyembah berhala-berhala seperti Al-Lata, Al-‘Uzza,dan Manata, tiga berhala
terbesar mereka disamping ratusan berhala lainny.
Menurut Quraish Shihab,
Islam lahir dan datang untuk meluruskan keyakinan-keyakinan tersebut,dengan
membawa ajaran tauhid. Karena ajaran tauhid yang dibawa , Islam sering disebut
sebagai agama monoteisme ( paham satu Tuhan ). Monoteisme Islam menitikbertkan
pada Zat Tuhan yang murn keesaannya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai
pandangan islam tentang Tuhan. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama
ajaran Islam menjelaskan bahwa kehadiran
Tuhan ada dalam diri setiap insan.
TUHAN DALAM AJARAN ISLAM
Apakah Tuhan dalam
Islam itu ? Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menjelaskan
bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah[1]. Ia
disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 2500 kali,di luar penyebutan tentang
subtansi-Nya seperti al-Rabb atau al-Rahman. Al-Jurjani dalam
kitab al-Ta’rifat mendefinisaikan kata “Allah” sebagai nama yang merujuk kepada
Tuhan yang sebenarnya (al-Ilah al-haqq), yang merupakan kumpulan makna
bagi seluruh nama-nama-Nya yang baik ( al-asma al-husna).[2]
Sementara itu,
Toshihiko Izutsu secara semantik menjelaskan bahwa “Allah” merupakan kata fokus
tertinggi dalam sistem Al-Qur’an. Pandangan Teosentrik Al-Qur’an ini telah
membuat konsep tentang Allah menjadi mengusai keseluruhan kandungan Al-Qur’an.
Hingga masa nabi Muhammad berdakwah, orang-orang Arab Pagan telah memiliki
kepercayaan yang kabur terhadap Allah sebagai Tuhan tertinggi. Pada masa ini
kata “Allah” merupakan makna dasar ketuhanan. Kata ini kemudian dibawa masuk
oleh sistem islam sehingga Al-Qur’an menggunakannya sebagai nama Tuhan dalam
wahyu Islam.Tuhan dalam konteks ini dipahami sebagai dimensi-dimensi lain. Dia
memberikan arti dalam kehidupan kepada setiap sesuatu. Dia serba meliputi. Dia
adalah tak terhingga, dan hanya Dialah yang tak terhingga.
Menurut Yusuf Musa
dalam Al-Qur’an wa al-falsafah, keyakinan kaum muslim kepada Allah
sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha mengetahui ,Maha Bijaksana, dan Maha lainnya
merupakan aqidah Islamiyah tentang ketuhanan.[3] Aqidah
ini menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir.
Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit
dan di bumi. Alam ini adalah ciptaan_Nya, yang diciptakan dari tidak ada.
Selanjutnya dijelaskan Musa bahwa aqidah islamiyah ini apabila dilihat dari
sudut filsafat akan menemukan adanya dua wujud, yaitu wujud abadi dan wujud
zamani.[4]
Wujud abadi adalah
wujud yang Maha Sempurna secara mutlak. Wujud ini ada berkat kekuasaan-Nya.
Sifat abadi dalam wujud ini adalah pasti menurut akal. Hanya wujud inilah yang
tidak mustahil menurut akal, karena akal akan mengimajinasikan keabadian itu
tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa bagaimana (kaifa) dan bandingan dengan
sesuatu yang lain. Sementara wujud zamani adalah alam ini yang ada secara
sementara . Adanya alam terikat oleh zaman. Oleh karenanya zaman bukanla
sesuatu yang kekal. Keyakinan bahwa zaman itu abadi merupakan kekacauan
berpikir. Sementara itu, Abu Al-‘Ainain menambahkan bahwa keimanan kepada Allah
merupakan fondasi segala sesuatu.
Keimanan ini terkumpul
dalam kalimah al-aqidah al- Islamiyah yang sering disebut dengan kalimat
tauhid, yaitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Ucapan ini
secara esensi mengandung dua keyakinan, uluhiyah dan nubuwwah. Uluhiyah artinya
keyakinan hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, dan nubuwwah
artinya meyakini kebenaran risalah Muhammad. Konsep ketuhanan ini dalam Islam
merupakan dasar segala keyakinan yang dijelaskan Al-Qur’an dengan jelas,yang
membuat seorang muslim tidak ada alasan untuk tidak mengetahuinnya.[5]
Konsep Laa ilaaha illallah, banyak kita temukan dalam al-Qur’an,
diantaranya, Dalam surah Muhammad : 19, Allah telah menyatakan “ketahuilah
bahwa tiada tuhan selain Allah” Dalam surah Thaha:13-14, Allah berfirman, “
Aku memilihmu, maka perhatikan apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesunggunya
Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain-Ku. Karena itu, sembahlah Aku dan
dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku”. Ayat ini merupakan wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Dari beberapa ayat tersebut, nampak jelas
bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah.
Selain terdapat dalam Al-Qur’an, konsep Laa ilaaha illallah
juga terdapat dalam beberapa hadis. Diantaranya, dari ‘Abd Allah ibn Abi
Qotadah dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda, siapa yang mengucap, ‘Aku
bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’,
dengan lisannya, dan dengan ini qalbunya tentram, niscaya ia diharamkan
menghuni neraka. Riwayat lain, dari Mu’ad ibn Jabal meriwayatkan dari
Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya Laa
Ilaaha Illallah lalu meninggal Dunia, niscaya ia masuk surga.[6]
B. Filsafat Ketuhanan dalam Islam
1.
Siapakah Tuhan itu?
Perkataan ilah, yang diterjemahkan
“Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan
atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS 45 (Al-Jatsiiyah): 23, yaitu:
|M÷uätsùr& Ç`tB xsªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿx ¾ÏmÎ7ù=s%ur @yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 xsùr& tbrã©.xs? ÇËÌÈ
Artinya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya….?”
Dalam QS 28 (Al-Qashash):38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun
untuk dirinya sendiri:
tA$s%ur ãböqtãöÏù $ygr'¯»t _|yJø9$# $tB àMôJÎ=tã Nà6s9 ô`ÏiB >m»s9Î) Îöxî
Artinya:
“Dan Fir’aun berkata: Wahai pembesar kaumku, aku
tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa
mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi
maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah
dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun),
ganda (mutsanna:ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun).
Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan
atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh
manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.[7]
Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di
dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan
kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan
mendatangkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya,
merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat
berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk
kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan
ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya[8]
Atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang
dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak mungkin tidak
ber-Tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang
dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan
juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan
kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian
baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang
muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu,
sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.[9]
C. Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu
Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan
pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan
merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya
berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran
rasional, tidak akan benar.[10]
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera
dalam:
a. QS 21 (Al-Anbiya): 92
¨bÎ) ÿ¾ÍnÉ»yd öNä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏmºur O$tRr&ur öNà6/u Âcrßç7ôã$$sù ÇÒËÈ
“Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah
adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut
satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada
Allah dan Allah akan menghakimi mereka.
Ayat tersebut di atas memberi
petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan konsep
tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga sekarang. Melalui
Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa
para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi
perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara agama-agama adalah
karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya,
merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.[11]
b. QS 5 (Al-Maidah):72
( tA$s%ur ßxÅ¡yJø9$# ûÓÍ_t7»t @ÏäÂuó Î) (#rßç6ôã$# ©!$# În1u öNà6/uur ( ¼çm¯RÎ) `tB õ8Îô³ç «!$$Î/ ôs)sù tP§ym ª!$# Ïmøn=tã sp¨Yyfø9$# çm1urù'tBur â$¨Y9$# (
“Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah
Allah Tuhaku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka
adalah neraka.
c. QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4,
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#t öNs9ur ôs9qã ÇÌÈ öNs9ur `ä3t ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ
“Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak
dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Kata
Allah adalah nama isim jumid atau personal name. Merupakan suatu
pendapat yang keliru, jika nama Allah diterjemahkan dengan kata “Tuhan”, karena
dianggap sebagai isim musytaq.[12]
Tuhan yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan
antara lain dalam surah Ali Imran ayat 62,”Sesungguhnya ini adalah kisah
yang benar, dan tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah Yang Maha Kuasa lagi Maha
bijaksana”. Surah Shad ayat 65,” Katakanlah (ya Muhammad),sesungguhnya
Aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada Tuhan selain Allah yang maha
Esa dan Maha mengalahkan”. Surah Muhammad ayat 19,” Maka ketahuilah
bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin, laki-laki dan perempuan, Dan allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”
Dalam al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan
kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain
surah Hud ayat 84,” Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka
,Syu’aib .Ia berkata ,”,Hai kaumku ,sembahlah Allah , sekali-kali tiada Tuhan
bagimu selain Dia...” dan surah al-Maidah ayat 72, sesungguhnya telah
kafirlah orang-orang yang berkata ,sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra
Maryam,,padahal al-Masih sendiri berkata “Hai Bani Israil sembahlah Allah
Tuhaku dan Tuhanm”u. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka adalah
neraka,tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang pnolong pun.
Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Ankabut ayat
46,” Katakanlah kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan
kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu ;dan hanya kepada-Nya kami
berserah diri”. Dan surah Thaha ayat
98,” Sesungguhnya Tuhan-mu hanyalah Allah ,yang tidak Ada Tuhan selain Dia.
Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.
Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut informasi
al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan
“Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui
wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak
datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya
esa, yang tidak berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi
bagian-bagian.[13]
Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan
dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La
ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam
setiap tindakan dan ucapannya.Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang
bersumber dari al-quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai kecenderungan
untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam
sikap dan praktik menjalani kehidupan.[14]
D. Argumen-argumen Adanya Tuhan
Pembahasan tentang
eksistensi Tuhan secara filosofis sebenarnya menuntut pembuktian yang
berdasarkan nalar. Inilah yang menjadi perdebatan kaum filsuf, kaum teolog dan
kaum sufi. Menurut Amin Abdullah, perdebatan antar ketiganya dalam tradisi
keilmuan Islam begitu sengit sehingga tak jarang terjadi saling mengkafirkan,
memurtadkan dan mensekularkan. Perdebatan terjadi karena epistemologi yang
digunakan ketiganya berbeda. Dengan mengikuti kerangka ilmu filsafat ilmu
Mohammad Abid Al-Jabiri, kaum filosofis menerapkan epistemologi burhani
yang bersumber dari akal, kaum ushuliyyin menggunakan epistemologi bayani
yang bersumber dari teks, sementara kaum sufi menerapkan epistemologi irfani
yang lebih menekankan pada intuisi. [15]
Beberapa argumen yang
dikemukakan oleh para filsuf dengan argumaen burhani-nya, berkaitan dengan
eksistensi Tuhan adalah sebagai berikut :
1.
Al-Kindi seorang filsuf
Arab (w.sekitar 866 M) dengan argumen kebaruan (dalil al-huduts) nya. Ia
mengatakan bahwa alam semesta ini betapapun luasnya adalah terbatas. Karena
terbatas, alam tidak mmungkin memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena
itu, alamyang terbatas ini tidak mungkin bersifat azali ( tidak mempunya awal).
Ia mesti memiliki titik awal dalam waktu, dan materi yang melekat padanya juga
terbatas oleh gerak dan waktu.jika materi,gerak dan waktu dari alam ini
terbatas, berarti alam semesta ini baru (hudust). Segala sesuatu yang
baru bagi Al-Kindi pasti dicipta (muhdats ). Kalau alam dicipta maka
memunculkan adaya pencipta. Itulah Tuhan sebagai sebab pertama. Dalam kajian
filsafat argumen kebaruan Al-Kind disebut dengan argumen kosmologi,yang menggunakan
hukum “sebab-akibat”.[16]
2.
Ibnu Sina (w. 1037 M)
melalui argumen kemungkinan ( dalil al-jawaz) atau kontingesi. Ia membagi wujud
dalam tiga kategori ; Wujud Niscaya (wajib al-wujud) adalah wujud yang
senantiasa harus ada dan tidak boleh tidak ada, wujud mungkin (mumkin
al-wujud) adalah wujud yang boleh saja ada atau tiada, dan wujud mustahil (mumtani
al-wujud) adalah wujud yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal.
Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan
wujud yang boleh ada, alam bukan wujud niscaya, namun karena alam juga boleh
tidak ada maka dapat dikatakan wujud mustahi. Akan tetapi nyatanya bumi ini ada
maka dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” adalah
potensial,kebalikan dari aktual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada
dirinya,berarti sifat dasar alam adalah potensial,boleh ada dan tidak bisa
mengada dengan sendirinya. Karena alam ini potensial, ia tidak mungkin ada
(mewujud) tanpa adanya sesuatu yang telah aktual, yang telah mengubahnya dari
potensial menjadi aktualitas. Itulah tuhan yang wujud niscaya. Argumen
kemungkinan ini sering disebut dalil ontologi karena pendekatannya menggunakan
filsafat wujud.[17]
3.
Ibnu Rusyd (w. 1198 M)
dengan argumen rancangan (dalil al-inayah)nya. Dengan pemikiran
rasional-religiusnya berpendapat bahwa perlengkapan (fasilitas) yang ada di
alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Hal ini merupakan bukti adanya
Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Melalui “rahmat” yang ada di alam ini, membuktikan
bahwa Tuhan ada. Selain itu penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya
khidupan organik, persepsi indrawi,dan pengenalan intelektual merupkan bukti
lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian. Penciptaan ini secara
rasional bukanlah suatu kebetulan, melainkan haruslah dirancang oleh agen yang
dengan sengaja dan kebetulan dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu.
Oleh karena berdasarkan pandangan adanya keserasian Tuhan, konsep Tuhan menurut
Ibnu Rusyd ini sering disebut pandangan teleologis.[18]
E. Implikasi
Konsep Tuhan bagi Filsafat Pendidikan Islam
Beberapa konsepsi Islam
tntang Tuhan kiranya mempunyai dampak dan implikasi pedagogis yang perlu
diperhatikan dunia pendidikan Islam. Implikasi-implikasi tersebut sebagai
berikut.
1.
Allah sebagai Pencipta
hendaknya dikenal ,diketahui,dan diyakini manusia melalui tanda-tanda
kekuasaan-Nya. Eksistensi Tuhan seperti ini harus dipahami adanya sebagai
tujuan utama pendidikan Islam. Ini merupakan unsur iman (akidah) dalam filsafat
pendidikan Islam.
2.
Allah sebagai Rabb
mengandung arti bahwa Allah adalah pengatur dan pemelihara alam semesta ini.
Allah sebagai Rabb ini telah menentukan beberap aturan (sunatullah) yang perlu
diperhatikan manusia. Manusia tunduk terhadap aturan-aturan ini ,dan wajib mengikutinya
dalam kehidupa sehari-hari. Ini merupakan unsur Islam (syariah) dalam filsafat
pendidikan Islam.
3.
Allah sebagai Pencipta
memiliki beberpa sifat yang disebut al-asma al-husna. Sifat-sifat ini hendaknya
dapat ditransformasikan dalam dunia pendidikan Islam,dalam rangka mewujudkan
manusia sebagai khilafah yang bertugas mengemban amanat Allah di bumi. Sifat
–sifat ini sedemikian rupa dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini
merupakan unsur ihsan (akhlak) dalam filsafat pendidikan Islam.
4.
Melalui argumen
kosmologi, filsafat pendidikan Islam mengandalkan keterbatasan menuasia sebagai
makhluk. Keterbatasan ini mengindikasikan adanya tjuan jangka pendek dan jangka
panjan bagi pendidikan Islam.
5.
Melalui argumen
ontologi, filsafat pendidikan Islam mengasumsikan bahwa manusia sebagai wujud
mungkin memiliki beberapa potensi. Potensi-potensi ini sedemikian rupa dikembangkan oleh
Pendidikan Islam sehingga menjdi aktual, yang bermanfaat bagi kehidupnnya.
6.
Melalui argumen
teleologi, filsafat pendidikan Islam memformulasikan bahwa alam semesta
dirancang Allah sebagai fasilitas bagi kehidupan manusia. Fasilitas ini harus
senantiasa dikembangkan melalui kreasi dan kreasivitas sehingga memunculkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, agar manusia dapat merancang hidupnya.[19]
KESIMPULAN
Fazlur Rahman dalam Major
Themes of the Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Allah.
Toshihiko Izutsu secara semantik menjelaskan bahwa “Allah” merupakan kata fokus
tertinggidalam sistem Al-Qur’an. Menurut Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa
al-falsafah, keyakinan kaum muslim kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha
Esa, Maha mengetahui ,Maha Bijaksana, dan Maha lainnya merupakan aqidah
Islamiyah tentang ketuhanan.Sementara itu, Abu Al-‘Ainain menambahkan bahwa
keimanan kepada Allah merupakan fondasi segala sesuatu. Keimanan ini terkumpul
dalam kalimah al-aqidah al- Islamiyah yang sering disebut dengan kalimat
tauhid, yaitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah.
Konsep Laa ilaaha illallah, banyak kita temukan dalam al-Qur’an,
diantaranya, Dalam surah Muhammad : 19 dan surah Thaha:13-14
Selain terdapat dalam Al-Qur’an, konsep Laa ilaaha illallah
juga terdapat dalam beberapa hadis. Diantaranya, dari ‘Abd Allah ibn Abi
Qotadah dari ayahnya, dan riwayat Mu’ad ibn Jabal.
Abdurrahim, dkk, Kuliah Tauhid, Yayasan Sari Intan, Jakarta,
1989
Ali Abul Hasan. 1998. Prinsip- Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam,terj.
H.A Nasir yusuf dan Karsidi Dininggrat. Cet. I ;Bandung : CV. Pustaka Setia.
Hanafi , Ahmad,
Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990
Suharto Toto. 2014. Filsafat
Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media
Sukring. 2013. Pendidikan
Agama Islam. Kendari : Kaubaka Pressindo.
[1] Dr.
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta : Ar-Ruzz
Media,2014), hal.54
[2]Ibid.,
hal 54
[3] Ibid.,
hal 56
[4] Ali Abul Hasan. 1998. Prinsip-
Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam,terj. H.A Nasir yusuf dan Karsidi
Dininggrat. Cet. I ;Bandung : CV. Pustaka Setia., hal 21
[5] Ibid., hal 23
[6] Ibid., hal 28
[7] Sukring. 2013. Pendidikan
Agama Islam. Kendari : Kaubaka Pressindo., hal 12
[8] Ali Abul Hasan. 1998., Op.,Cit.,
hal 33
[9] Ibid., hal 39
[10] Ahmad Hanafi, Pengantar
Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990., hal 19
[11] Ibid., hal 23
[12] Abdurrahim, dkk,
Kuliah Tauhid, Yayasan Sari Intan, Jakarta, 1989., hal 11
[13] Ibid., hal 19
[14] Ahmad Hanafi., Op.,Cit., hal 29
[15] Ibid., hal 33
[16] Sukring., Op.,Cit., hal
19
[17] Ibid., hal 22
[18] Abdurrahim, Op.,Cit., hal 22
[19] Ibid., hal 29