Setelah berlalu masa yang cukup panjang, sepeninggal
Musa عليه السلام, Bani Israil semakin
jauh dari Taurat. Mereka semakin berpaling dari syariat. AIlah سبحانه وتعالى pun timpakan kehinaan berupa kaum zalim
yang menindas Bani Israil. Hingga mereka terusir dari negeri-negeri mereka.
Demikian itulah sunnatullah, kehinaan
tidak akan menimpa suatu kaum, kecuali dengan sebab mereka berpaling dari
syariat Allah. Allah سبحانه وتعالى
berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ
الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
”Telah nampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).” [Q.S. Ar Ruum: 41].
Dalam sebuah hadits, Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ
بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ،
وَرَضِيْتُمْ
بِالزَّرَعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ
يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم
”Jika kalian telah berjual beli dengan
riba, dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi serta ridha dengan kebun kebun,
(yakni terlena dengan dunia dan melupakan akhirat), dan kalian tinggalkan
jihad, sungguh Allah akan kuasakan kehinaan atas kalian. Dan tidak akan dicabut
kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [H.R. Abu Dawud dari
shahabat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما,
dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami'].
Di masa itu, Bani Israil tertindas. Hingga
datanglah seorang Nabi di tengah mereka. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan
bahwa beliau adalah Nabi Samuel. Ada yang berpendapat dia adalah Yusya' bin
Nun. Ada lagi yang mengatakan dia adalah Syam'uun.
Siapa sejatinya nabi tersebut? Allahu
a'lam, hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang
menyebutkan nama. Yang pasti, Al-Quran tidak menyebutkan. Sama halnya dengan
Ashabul Kahfi. Kisahnya masyhur, namun tidak seorang pun dari pemuda-pemuda
beriman itu Allah sebut namanya dalam Al-Quran.
Bani Israil menyadari bahwa kemuliaan
tidak akan terwujud melainkan dengan menegakkan syariat Allah. Mereka menyadari
kemuliaan tidak akan kembali kecuali dengan jihad fi sabilillah.
Beberapa pembesar Bani Israil menjumpai
sang Nabi, meminta agar dipilih raja di antara mereka untuk memimpin Bani
Israil menegakkan jihad fisabilillah. Allah سبحانه
وتعالى berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى
الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ
لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ
”Apakah kamu tidak memperhatikan
pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada
seorang Nabi mereka, ”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang
(di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” [Q.S. AI Baqarah: 246].
Dengan penuh kelembutan dan kearifan, Nabi
tersebut mengingatkan Bani Israil dari penyimpangan. Beliau mengkhawatirkan
Bani Israil akan berpaling ketika syariat Jihad Allah wajibkan.
قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ
إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ
”Nabi mereka menjawab, ’Mungkin sekali
jika kalian nanti diwajibkan berperang, kalian tidak akan berperang."
Dengan semangat yang menggelora, Bani
Israil menyatakan kemustahilan mereka akan berpaling.
قَالُوا وَمَا لَنَا
أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا
وَأَبْنَائِنَا ۖ
”Mereka menjawab, "Mengapa kami tidak
mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari
kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?”
Benar firasat Sang Nabi. Semangat Bani
Israil hanyalah letupan sesaat. Ketika datang kewajiban Jihad fi sabilillah,
Bani Israil berpaling dari kewajiban, kecuali sebagian kecil dari mereka.
Allah سبحانه
وتعالى berfirman:
فَلَمَّا كُتِبَ
عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ
بِالظَّالِمِينَ
"Maka tatkala perang itu diwajibkan
atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara
mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim.”
[Q.S. AI Baqarah: 246].