Thoriqh Akmaliyah dan
Malamatiyah
Menurut sebuah riwayat yang layak dipercaya, di Jawa ada suatu
tarekat yang mirip dengan tradisi kaum Malamatiyah. Mereka akan merasa gagal
bersuluk jika ketaatan mereka diketahui orang lain. Bukan saja fokus membasmi
potensi riyak, para malamat lebih fokus pada peperangan melawan ego sendiri.
Mereka mengenal kombinasi: menyalahkan diri sendiri (malamatun nafs), memperkuat dawamul-iftiqor (keadaan merasa
hina secara permanen), dan katmul-ibadah (menyembunyikan ibadah). Para pionir aliran ini,
seperti Syeikh Samnun al-Qassar menyebut jalan spritual mereka sebagai ‘jalan
kesalahan’. Tidak memberi ruang sedikitpun bagi diri sendiri untuk merasa benar
atau baik. Jadi lebih fokus ke dalam, semacam disipliner batiniah yang sangat
ekstrem.
Istilah malamatun-nafs adalah kosa kunci
yang diperkenalkan oleh kalangan Malamatiyah awal seperti diceritakan dalam
kitab Risalah Malamatiyah karya Syeikh Hakim at-Tirmidzi. Sedangkan katmul-ibadah diperkenalkan
oleh Syaikh Syihabuddin Suhrawardi, seorang penulis kitab babon tasawuf, Awariful Ma’aarif, sebagai konter-wacana
kecendrungan ekstrim kalangan Malamatiyah dalam mengumbar dosa agar terlihat
tidak taat. Hal ini untuk membedakan mana praktik Malamatiyah yang benar dan
mana yang mengada-ada.
Maksudnya,
pada masa sebelumnya sebagian kaum Malamatiyah menzahirkan kesalahan di tengah
makhluk agar dicap tidak taat. Tradisi menyembunyikan ketaatan, tetapi
menzahirkan kesalahan dijalankan secara ekstrem oleh banyak kelompok sampai
batas yang mengkhawatirkan. Artinya ada potensi penyelewengan, potensi
kepura-puraan, penipuan, dan pemalsuan yang terjadi. Singkatnya, lahir suatu
gaya spiritualitas yang membenarkan perbuatan salah dan dosa.
Seperti
disebutkan oleh Syeikh Fariduddin Attar dalam salah satu fragmen Mantiqut
Thayr-nya, menceritakan keterperosokan seseorang yang mendaku malamat (orang
yang mencerca diri) ke dalam kubangan lupa dan dosa sampai pindah dari satu
agama ke agama lain, dan hidupnya berakhir di ketiak perempuan non-muslim.
Zahir
mereka yang tidak taat seringkali digunjing, di-bully, dan difitnah oleh kalangan yang terbuai dengan aksesori agama.
Menurut sebagian riwayat, kaum Malamat akan meningkat level spritualitasnya ketika
orang lain meremehakan, memandang sebelah mata, dan tidak memanusiakannya.
Malamatiyah
bukan sufisme (tasawuf), dan bukan pula tarekat seperti pernah disampaikan oleh
beberapa ahli tasawuf, tetapi lebih sebuah kecenderungan bersuluk yang
berkembang sejak abad-9 Masehi. Bahkan kadang, kesan saya, Malamatiyah lebih
cenderung menjadi ragam pilihan sufistik-personal.
Kembali
ke tarekat Akmaliyah yang dekat dengan para malamat itu, para penganutnya
praktis tidak terlihat melakukan ibadah formal yang syar’i. Mereka tidak
menampakkan semua kewajiban tarekat mereka, seperti zikir dan amalan tambahan
lainnya. Menurut seorang peneliti, pengamal tarekat ini hanya bisa dikenali
dari praktik hidup hariannya, terutama ekstremnya mereka melayani kaum lemah
dalam segala kondisi mereka, fis sarraa wad dhoorro’. Mereka bersedekah dalam segala keadaan, baik
ketika longgar maupun sesak secara ekonomi. Tindakan sosial yang
menggembirakan, meringankan beban, dan membuat nyaman hidup orang lain menjadi
ciri utama para pengamal tarekat ini.
Tarekat
Akmaliyah adalah salah satu tarekat muktabar (walau tanpa lisensi kemuktabaran
dari lembaga formal) lokal. Banyak kiai-kiai NU mengamalkan tarekat Akmaliyah,
tetapi organisasi JATMAN (Jami’iyah Tarekat Muktabarah Nahdliyah) tidak memasukkan
Akmaliyah sebagai salah satu tarekat muktabar. Status muktabar artinya sebuah
tarekat sudah dikenal luas kebenaran ajaran dan kesinambungan silsilahnya,
sudah terverifikasi oleh para ulama dan umat.
Akmaliyah
adalah salah satu lokal yang pernah ada dan bertahan sampai hari ini. Dikatakan
lokal karena silsilah atau matarantai sanadnya sangat pendek, yakni dari Syeikh
Siti Jenar langsung melompat ke Sayyidina Abu Bakar Shiddiq kemudian kepada
Rasulullah SAW. Ini versi sanad yang saya percaya secara subjektif. Ada
beberapa silsilah Akmaliyah lainnya, tapi karena beberapa alasan subjektif,
saya abaikan. Harus diakui belakangan, banyak sekali versi Akmaliyah yang
memiliki potensi menjadi pseudo-sufisme. Setiap tarekat dalam perjalanannya
memiliki dinamika yang tidak linear, apalagi seperti Akmaliyah yang dalam
jangka panjang tercerai-berai secara ajaran dan praktik karena kegiatan politis
mereka melawan penjajahan.
Para
mursyid Akmaliyah awal, terutama Syeikh Siti Jenar, Sunan Kali Jaga, dan
belakangan Sultan Agung Hanyokrokusuma membimbing para murid Akmaliyah sampai
tahap mendapatkan kematangan spiritual. Bahasa vulgarnya, mereka dibimbing
sampai mendapatkan kewalian.
Setelah
abad-16 Masehi, para pengamal tarekat Akmaliyah ini tersebar di dua jalur,
yakni di kraton-kraton kesultanan Islam Jawa atau di kalangan internal kraton,
dari para sultan, pangeran, sampai kepada pegawai terendah kesultanan.
Matarantai sanad mereka dari Syeikh Siti Jenar ke Sunan Kalijaga ke Mas Karebet
ke Panembahan Senopati ke Sultan Agung ke puteranya Pangeran Amangkurat Agung
dan seterusnya. Sebagian pendapat mengatakan dari Sultan Agung ke puteranya
Pangeran Toposono (makamnya di Semarang dan ada juga di pesareyan para sultan
di Kotagede).
Sedangkan
sanad yang dari jalur Syeikh Siti Jenar ke Ki Ageng Kebo Kenongo yang kemudian
dilanjutkan Sultan Pajang, Mas Karebet, dan kemudian kepada puteranya, Pangeran
Benowo. Seperti kita ketahui, dari Pangeran Benowo inilah lahir para ulama yang
nantinya mendirikan pesantren-pesantren di Jawa.
adi, hubungan pesantren dan para sultan
Jawa bukan saja hubungan kekerabatan, tetapi juga hubungan spritualitas.
Sekarang, praktis sangat sedikit orang yang mengetahui kompleskitas hubungan
dua golongan lama dalam pranata sosial masyarakat Jawa.
Masih
menurut hasil penelitian seorang karib, salah satu mursyid tarekat Akmaliyah
yang bisa dijadikan pegangan di zaman modern adalah Syaikhona Kholil Bangkalan.
Bahkan menurut Kiai Agus Sunyoto, Mbah Hasyim Asy’ari adalah seorang mursyid
Akmaliyah. Dari kedua masayikh NU ini dilanjutkan oleh beberapa mursyid
Akmaliyah di sejumlah pesantren di Jawa Timur.
Satu
dekade lalu, Mbah Ghafur, Blitar, Jawa Timur, juga membaiat para murid beliau
dalam tarekat Akmaliyah dengan bungkus tarekat lain. Ajaran tarekatnya adalah Akmaliyah
tetapi namanya memakai tarekat Syatariah atau Syadziliah. Hal ini sudah biasa
dilakukan oleh para mursyid Akmaliyah.
Saya
sengaja menyebutkan sekelumit cerita tarekat Akmaliyah di pesantren sampai hari
ini agar Akmaliyah sebagai suatu tarekat yang diwariskan oleh para wali Jawa
bisa terpelihara dan para murid Akmaliyah bisa merujuk kepada guru-guru
Akmaliyah di pesantren agar tidak tergelincir pada spekulasi dan kemungkinan
atau potensi pesudo-sufisme di zaman milenial.
Apa
yang menarik dari kalangan Malamatiyah dan Akmaliyah, bahwa jalan spritualitas
itu membutuhkan suatu tingkat disipliner yang sangat ketat dan tinggi. Tidak
ada jalan nyaman bagi para pencari kebenaran. Semua diperoleh melalui
serangkaian kewajiban ekstra ketat dalam menjalankan ibadah, menuntut
pengetahuan, dan menjaga kemurnian batin.