Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Rasulullah yang terlanjur
kaya, sehingga sering disindir oleh Rasulullah, bahwa Abdurrahman akan masuk
surga dengan berjalan merangkak.
Para
sahabat penasaran ketika mendengar perkataan Rasulullah ini. "Kenapa dia
masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lainnya yang berjalan super kilat
pada waktu masuk surga?" Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam
menjawab: "Sebab dia terlalu kaya."
Abdurrahman bin Auf sering menangis teringat sabda Rasulullah ini.
Beliau sering berdoa: "Jadikan aku ini miskin! Aku ingin seperti Masab bin
Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal
dunia. Masab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi
kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya
terbuka. Ya Allah!!" rintihnya.
Abdurrahman bin Auf ditakdirkan menjadi orang kaya selama hidupnya.
Beliau sering berkonsultasi kepada Rasulullah: bagaimana
supaya dirinya dapat masuk ke surga minimal berjalan kaki, tidak merangkak.
Jawab Rasulullah: "Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan
untuk masuk surga!"
Dalam
catatan sejarah, pada akhir hayatnya Abdurrahman bin Auf berwasiat membagi
hartanya menjadi 3 bagian: 1/3 dibagikan untuk modal usaha sahabatnya; 1/3
untuk melunasi hutang-hutangnya; dan 1/3 lagi untuk dibagi-bagikan kepada fakir
miskin. Semua dilakukan untuk meringankan langkahnya memasuki pintu surga.
Dikutip dari Islampos.com, Abdul Rahman bin Auf RA
berusaha keras agar bisa menjadi miskin. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah
yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin
Auf menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat
tadi dengan harga setara kurma yang bagus.
Sahabat gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman
bin Auf juga gembira sebab berharap jatuh miskin.
Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja
Yaman mencari kurma busuk. Di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular,
dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah kurma busuk.
Utusan
Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf dengan harga 10
kali lipat dari harga kurma biasa.
Allahuakbar. Orang lain berusaha keras jadi kaya.
Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin, tapi selalu gagal.
Benarlah firman Allah: “Wahai manusia, di langit ada
rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian.” (QS. Adz Dzariat,
22).
Dilansir dari Republika.co.id, Abdurrahman bin Auf pernah memberikan
dagangannya sebanyak 700 ekor unta untuk dibagikan pada penduduk Madinah. Ia
juga berwasiat agar setiap Muslim yang ikut Perang Badar yang masih hidup
diberi 400 dinar dari hartanya.
Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Rasulullah yang “gagal
miskin”. Karena takut masuk surga dengan merangkak, ia makin gencar
membelanjakan hartanya di jalan Allah. Alih-alih hartanya berkurang karena
disedekahkan, yang ada malah terus bertambah.
Bahkan tercatat saat Abdurrahman bin Auf saat wafat masih
meninggalkan harta sebesar 2.560.000 dinar (setara Rp 3.072 triliun).
Sahabat
lain yang juga “gagal miskin” adalah Utsman ibn Affan. Kekayaan menantu
Rasulullah SAW ini sangat fantastis. Bukan dari jumlahnya, namun yang
mencengangkan, harta itu masih abadi dan terus bertambah, bahkan 14 abad
setelah wafat.
Suatu kali Ustman mewaqafkan kebun beserta isinya 1.500
batang pohon kurma. Kebun ini terus menghasilkan dan terkelola dengan baik,
sekalipun penguasa wilayah Madinah silih berganti.
Hingga kini kebun dan tanah waqaf itu berada di bawah
pengawasan Departemen Pertanian Arab Saudi. Sebagian dana itu lalu dikelola
dengan dibangun hotel bintang lima di samping Masjid Utsman Bin Affan, di
kawasan Markaziyah.
Hingga hari ini, tercatat saldo di rekening atas nama
Utsman ibn Affan mencapai Rp 2.532.942.750.000 dengan pertambahan nilai 50 juta
riyal atau setara dengan Rp 16 miliar per tahunnya. (C)