Melihat dari garis keturunan kedua ayah ibunya, Ali merupakan keturunan berdarah Hasyimi yang dikenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, pemegang kepemimpinan masyarakat, dan memiliki sejarah cemerlang di masyarakat Mekkah.
Ibunya memberi nama Haidarah (macan) pada Ali,
diambil dari nama kakek Ali, Asad. Dengan harapan, anaknya dapat tubuh menjadi
seorang laki-laki pemberani. Namun, ayahnya memberinya nama Ali (yang leluhur),
hingga sekarang nama Ali-lah yang lebih dikenal masyarakat luas.
Ali bin Abi Thalib telah memeluk Islam sejak ia
masih kecil, bahkan dari buku tulisan Mustafa Murrad, ia bisa disebut sebagai
orang pertama yang masuk Islam.
Rasulullah SAW telah mengasuh, mendidik, dan
mengajarinya sejak kecil. Kasih sayang dan kemuliaan Rasulullah SAW inilah yang
membentuk karakter Ali saat dewasa.
Semasa hidupnya, Ali hidup dengan sederhana. Ia
cukup makan dengan lauk cuka, minyak, dan roti kering yang dipatahkan dengan
lututnya.
Pakaian yang digunakan Ali juga pakaian yang
kasar, yakni pakaian ala kadarnya untuk menutupi tubuh saat cuaca panas dan
terpaan hawa dingin, seperti yang dikutip dari tulisan Sayyid Ahmad
Asy-Syalaini dalam bukunya yang berjudul Kumpulan Khotbah Ali Bin Abi Thalib.
Bahkan di rumahnya, tidak telihat sebuah kasur
sama sekali atau pun bantal tempatnya untuk berbaring.
Melansir dari buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib
karya Mustafa Murrad, sebagai pemimpin, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai
orang yang senantiasa berakhlak baik, bahkan sejak ia masih anak-anak. Ia pun
suka berkeliling sekadar untuk menantikan siapa pun yang menghampirinya guna
meminta bantuan atau bertanya padanya.
Pada sebuah siang yang terik, orang-orang di pasar
sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tibalah seorang Ali bin Abi Thalib
dengan mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit
tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya.
Ia berjalan mengelilingi pasar untuk berdakwah,
mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT dan melakukan transaksi
jual beli dengan baik.
Sebagaimana yang dikisahkan oleh penulis Zaidan,
Ali bin Abi Thalib memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Biasanya
ia menasihati orang yang tersesat, menunjukkan arah kepada orang yang
kehilangan, menolong orang yang lemah, hingga menasihati para pedagang dan
penjual sayur.
Ali bersikap zuhud dari dunia karena ia merasa
hari-hari di dunia hanyalah sekejap.
Dikisahkan pada suatu malam yang dingin, Ali tidak
menggunakan sehelai selimut yang tebal. Seorang laki-laki mendapati tubuh Ali
menggigil seperti demam dan hanya mengenakan selimut beludru yang rusak.
Laki-laki itu kemudian berkata,
"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah
telah menerapkan bagimu dan keluargamu bagian dari Baitul Mal, tetapi aku
melihatmu menggigil karena berselimut beludru butut?"
Kemudian Ali menjawab, "Demi Allah, aku tak
mau sedikit pun mengambil harta kalian (kaum muslim), dan kain beludru ini aku
bawa dari rumahku."
Dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Abu
Ghissin, seorang budak, Ali pernah terlihat membeli pakaian murah pada seorang
pedagang pakaian. Kemudian Ali mengenakan pakaian yang dibelinya tersebut,
ternyata panjangnya hanya sampai tengah betisnya.
Baca artikel detikedu, "Kisah Sahabat Nabi
Ali bin Abi Thalib, Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5542309/kisah-sahabat-nabi-ali-bin-abi-thalib-pemimpin-yang-dekat-dengan-rakyat.