Tampilkan postingan dengan label Thoriqoh Idrisiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoriqoh Idrisiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2022

Thoriqoh Idrisiyah

 

 


Tarekat Idrisiyah

Tarekat Al-Idrisiyyah dinisbahkan kepada nama Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi al-Hasani (1173 – 1253 H / 1760 - 1837 M). Sebenarnya Tarekat ini berasal dari Tarekat Khidhiriyyah yang berasal dari Nabi Khidir As yang diberikan kepada Syekh Abdul Aziz bin Mas'ud ad-Dabbagh Ra. Setelah Syekh Ahmad bin Idris Ra. Tarekat ini mengalami perkembangan lebih jauh yang melahirkan berbagai jenis Tarekat lainnya, hal ini disebabkan karena beberapa murid Syekh Ahmad bin Idris membuat komunitas Tarekat yang dinisbahkan kepadanya dan mengembangkan ajarannya menjadi suatu sistem ajaran yang lebih spesifik.

Sadand Tareka Idrisiyah

Syekh Ahmad bin Idris berguru kepada Syekh Abdul Wahab at-Tazi, yang merupakan murid Syekh Abdul Aziz az-Dabbagh, pengarang kitab Al-Ibriz. Awrad terkenal yang diajarkan oleh Syekh Ahmad bin Idris kepada murid-muridnya adalah berupa hizib-hizib, di antaranya adalah Hizib Sayfi yang diperolehnya dari Syekh al-Mujaidiri, yang didapatnya dari seorang Raja Jin, dari Sayidina Ali Karramallahu Wajhah. Selain itu Dia diajarkan seluruh awrad Syadziliyyah dari Rasulullah Saw melalui perantara Nabi Khidir As. Namun yang masih eksis diamalkan oleh penganut Tarekat Idrisiyyah adalah Shalawat 'Azhimiyyah, Istighfar Kabir dan Dzikir Makhshus.

Sanad Tarekat Al-Idrisiyyah terkenal sangat ringkas, karena menggunakan jalur Nabi Khidhir As hingga Nabi Muhammad Saw. Sedangkan jalur pengajaran syari'at Tarekat ini menggunakan jalur Syekh Abdul Qadir al-Jailani Qs. hingga kepada Sayidina Hasan Ra.

Tarekat Idrisiyah di Indonesia

Tarekat Idrisiyyah masuk ke sulawesi selatan melalui Syeikh Muhammad Nur dan diteruskan oleh para pelanjutnya dan di jawa barat Tarekat ini yang dibawa oleh Syekh al-Akbar Abdul Fattah pada tahun 1932, yang sebelumnya bernama Tarekat Sanusiyyah. Syekh al-Akbar Abdul Fattah menerimanya dari Syekh Ahmad Syarif as-Sanusi al-Khathabi al-Hasani di Jabal Abu Qubais, Mekah. Saat ini kepemimpinan Tarekat Al-Idrisiyyah diteruskan oleh Syekh Muhammad Fathurahman, MAg.

Tarekat ini menekankan aspek lahir dan batin dalam ajarannya. Penampilan lahiriyyah ditunjukkan oleh penggunaan atribut dalam berpakaian. Kaum laki-laki berjenggot, berghamis putih, bersurban, dan berselendang hijau. Sedangkan kaum wanitanya mengenakan cadar hitam. Jama'ahnya menjauhi perkara haram dan makruh seperti merokok. Adapun dalam aspek peribadatannya senantiasa mendawamkan salat berjama'ah termasuk salat sunnahnya. Sujud syukur setelah salat fardhu dikerjakan secara istiqamah.

Tarekat Al-Idrisiyyah lebih dikenal di Malaysia daripada di Indonesia, karena banyak berafiliasi dengan Tarekat lain (seperti TQN). Ada Tarekat Qadiriyyah Idrisiyyah atau Ahmadiyyah al-Idrisiyyah. Nama Ahmadiyyah diambil dari nama depan Syekh Ahmad bin Idris. Ketika masuk ke Indonesia, karena alasan politis nama Tarekat Sanusiyyah berganti dengan nama Idrisiyyah. Mengingat pergerakan Sanusiyyah saat itu telah dikenal oleh para penjajah Barat.

Aurad dan Dzikir

Kebiasaan dzikir yang biasa dilakukan oleh jama'ah Al-Idrisiyyah adalah di setiap waktu ba'da Maghrib hingga Isya dan ba'da Shubuh hingga Isyraq. Pelaksanaan dzikir di Tarekat ini dilakukan dengan jahar (suara nyaring), diiringi lantunan shalawat (kadang-kadang dalam moment tertentu dengan musik). Kitab panduan Awrad dzikirnya bernama 'Hadiqatur Riyahin' yang merupakan khulashah (ringkasan) awrad pilihan (utama) dari berbagai amalan (awrad) Syekh Ahmad bin Idris dan Sadatut Thariqah lainnya. Awrad wajib harian seorang murid Idrisiyyah di bawah bimbingan Mursyid saat ini adalah:

1.   Membaca Al-Quran satu Juz,

2.   Membaca Istighfar Shagir 100 kali,

3.   Membaca Dzikir Makhshush 300 kali: Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosulullah fii kulli lamhatin wanafasin 'adada maa wasi'ahuu 'ilmullah.

4.   Membaca Sholawat Ummiyyah 100 kali,

5.   Membaca Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum 1000 kali,

6.   Memelihara Ketaqwaan.

Awrad tambahan untuk bertaqaarub kepada Allah adalah menunaikan salat tahajjud dan membaca Sholawat 'Azhimiiyyah sebanyak 70 kali sesudah ba'da Shubuh hingga terbit Fajar. Selain itu setiap murid dianjurkan membaca Hafizah Nabawiyyah yang tertera dalam kitab Hadiqah Riyahin.

Pengajian dan Pertemuan Rutin

Diperkirakan ada sekitar 70.000 orang lebih jama'ah Idrisiyyah yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat ini pengajian umum dilakukan sebulan yang dinamakan Arbain. Tarekat Idrisiyyah yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Fathurahman secara rutin mengadakan kegiatan pertemuan seluruh Santri sebanyak 3 kali dalam setahun di Ponpes Al-Idrisiyyah di Tasikmalaya, Yakni even Maulid, Rajab dan Dzulhijjah. Even tersebut bernama Qini Nasional.

Pengajian rutin majelis Taklim dan Dzikir Al-Idrisiyyah dapat diikuti setiap hari Ahad pagi setiap bulan di minggu ketiga (Tasikmalaya) dan hari Ahad minggu pertama (Jakarta). Pengajian diawali dengan Shalat tahajjud berjamaah, Dzikir bada Subuh, Kajian Tasawuf. Materi pengajian biasanya membahas topik kekinian (kontekstual) dengan pendekatan Tasawuf Islam. Setiap majelis senantiasa ditutup dengan muhasabah dan do'a serta mushafahah (bersalaman).

 

 

Gelar Pemimpin Tariqoh Idrisiyah

Pemimpin Tarekat Al-Idrisiyyah ini mendapat gelar dari Rasulullah Saw (secara ruhani) yaitu: 'Syekh al-Akbar'. Kemudian pada masa kepemimpinan Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan Ra. mendapatkan tambahan 'Muhyiddin'. Begitu pula pelimpahan mandat kekhalifahan Tarekat Idrisiyyah selalu diinformasikan secara ruhaniyyah, dengan wasilah petunjuk Rasulullah Saw melalui Guru Mursyid sebelumnya. Awal penamaan Syekh Akbar terjadi pada masa Syekhuna Abdul Fattah di Masjid Cidahu (Tasikmalaya). Saat itu ada seorang murid yang menanyakan istilah Syekh Akbar di sebuah kitab, di mana tertulis: Penutup akhir zaman itu tiga: Syekh Akbar, Imam Mahdi dan Nabi Isa As. Lalu Syekuna memerintahkan para muridnya untuk meminta jawabannya langsung dari ruhani Rasulullah Saw lewat perantaraan riyadhah dzikir bersama-sama. Maka Ruhani Rasulullah Saw menyampaikan, 'Guru kalian itu (Syekhuna Abdul Fattah) adalah Syekh al Akbar!' Maka sejak saat itu 'Syekh Akbar' disematkan pada Beliau dan Mursyid Tarekat Idrisiyyah yang menjadi penerusnya.

ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...