Thoriqoh Ash-Sadziliyah
Pendiri
Tarekat Syadziliyah
didirikan oleh Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Nama Lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin
Hatim bin Qushay bin Yusuf bin Yusya' bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin
Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Abu Muhammad Hasan bin Ali Kwj. dan Fatimah binti Rasulullah ﷺ
Nama beliau adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, Julukanya adalah Abul Hasan dan nisbat
kelahirannya adalah Asy Syadzili. al-Syadzili lahir di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah pada tahun 593 H (1197 M). menghapal al-Quran dan pergi ke Tunis ketika usianya masih sangat muda. Ia tinggal
di desa Syadzilah. Oleh karena itu, namanya dinisbatkan kepada desa tersebut
meskipun ia tidak berasal dari desa tersebut
Dasar
Secara pribadi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tidak
meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Syekh Abul Abbas
al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa, dan hizib.
Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari atau
nama lengkapnya Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari]] (658 - 709 H
)/ (1260 - 1309 M) [3] adalah orang yang pertama menghimpun
ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khasanah tareqat
Syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu Atha'illah juga orang yang pertama kali
menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut,
pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.
Melalui
sirkulasi karya-karya Ibnu Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar
sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap
merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak
dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak
mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual
yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan.
Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan
Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan
satu dengan yang lain.
Sebagai ajaran
Tareqat ini dipengaruhi oleh Al-Ghazali dan Abu Talib
al-Makki atau al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada
murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada
Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid Al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab
Ihya' Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, mewarisi anda ilmu. Sementara Kitab Qut
al-Qulub, karya Abu Talib
al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab
tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa
al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya
al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atha'illah.