Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu,
Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru
ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi
Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut:
“Sebagian
ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat
lautan, dan hakikat Ibarat mutiara. Seseorang tidak akan mendapat mutiara
kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”.
“Sebagian
ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit
luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang
ada dalam daging buah”
Analogi
tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya
Sayyid Bakri bin Muhammad Syatho Al-Dimyati. Perahu itu sebagai sebab untuk
mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Lautan itu tempat tujuan
(mutiara) tersebut berada. Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali
di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu.
Gimana
sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari
syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Menurut
Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf,
syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir. Tarekat adalah memperbaiki
aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat
adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi
(tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir.
Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin. Hakikat itu menghiasi ruh (sarair).
Kayaknya
tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan
yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua
adalah ranah syariat (pada aspek dzahir). Lalu, kalian masuk thoriqah
mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru
mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan
mendapat cahaya-cahaya hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian
(musyahadah) Al-Haq.
Gimana
udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak
penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar. Makrifat
adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang
menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat
melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam
sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir
insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub,
dan sir).
Sebagai
penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian,
jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani manusia bisa kembali
ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat.
Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat.
Semoga kita
semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah,
hakikat, dan makrifat.
Wallahu a’lam bishshowab.