Nama lengkapnya adalah Ma’ruf
bin Faizan Abu Mahfudz al-Ibid bin Firus al-Karkhi. Ia adalah seorang ulama
sufi yang dikenal dengan al-Karkhi, sebuah nama yang dinibatkan kepada nama
tempat kelahirannya.
Dalam buku terbarunya yang berjudul “Allah dan Alam Semesta”,
Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan hampir semua sumber-sumber sejarah yang ada
sepakat bahwa Ma’ruf al-Karkhi adalah orang pertama yang membakukan dasar
pengertian tasawuf.
Menurut Ma’ruf al-Karkhi,
tasawuf adalah merengkuh segenap hakikat Ilahi, dan berpaling serta
menanggalkan segenap yang ada di tangan makhluk. Dari definisi ini, menurut
Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi menempatkan tasawuf sebagai
wasilah atau instrumen mencapai ma’rifah atau pengetahuan esoteris. Subyek atau
aktor ma’rifah sendiri disebut al-‘arif.
Dalam pandangan Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah kecenderungan
metafisis yang didambakan setiap jiwa manusia untuk mencapai tingkat fana dan
bersatu (ittihad) dengan Yang Bersifat Ilahi. Selain itu, tasawuf juga adalah
zuhud atau praktik asketisme.
“Singkatnya, dalam pandangan Ma’ruf, tasawuf adalah ma’rifah dan
zuhud,” tulis Said Aqil.
Selain itu, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi juga dikenal
sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan satu bentuk tarekat dalam
tasawuf. Ia juga yang pertama mengangkat ide tentang al-wilayah (mabuk
spiritual) karena kecintaan kepada Allah SWT, dan ia merasa baru sadar setelah
bersua dengan-Nya.
Dengan pula Ma’ruf al-Karkhi melihat bahwa fana-nya orang-orang
bertakwa adalah sebuah keabadian dan kematian mereka adalah sebuah kehidupan,
sebagimana diungkap dalam syairnya, “Kematian orang-orang bertakwa adalah
sebuah kehidupan yang kukuh dan kebal; mereka bisa saja mati, tapi di tengah
manusia mereka sebenarnya hidup.”
