Tampilkan postingan dengan label fakta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fakta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2022

kisah jaalut dan taalut

 



Setelah berlalu masa yang cukup panjang, sepeninggal Musa عليه السلام, Bani Israil semakin jauh dari Taurat. Mereka semakin berpaling dari syariat. AIlah سبحانه وتعالى pun timpakan kehinaan berupa kaum zalim yang menindas Bani Israil. Hingga mereka terusir dari negeri-negeri mereka.

 

Demikian itulah sunnatullah, kehinaan tidak akan menimpa suatu kaum, kecuali dengan sebab mereka berpaling dari syariat Allah. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Q.S. Ar Ruum: 41].

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

 

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ،

وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ  عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم

 

”Jika kalian telah berjual beli dengan riba, dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi serta ridha dengan kebun kebun, (yakni terlena dengan dunia dan melupakan akhirat), dan kalian tinggalkan jihad, sungguh Allah akan kuasakan kehinaan atas kalian. Dan tidak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [H.R. Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami'].

 

Di masa itu, Bani Israil tertindas. Hingga datanglah seorang Nabi di tengah mereka. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa beliau adalah Nabi Samuel. Ada yang berpendapat dia adalah Yusya' bin Nun. Ada lagi yang mengatakan dia adalah Syam'uun. 

 

Siapa sejatinya nabi tersebut? Allahu a'lam, hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyebutkan nama. Yang pasti, Al-Quran tidak menyebutkan. Sama halnya dengan Ashabul Kahfi. Kisahnya masyhur, namun tidak seorang pun dari pemuda-pemuda beriman itu Allah sebut namanya dalam Al-Quran.

 

Bani Israil menyadari bahwa kemuliaan tidak akan terwujud melainkan dengan menegakkan syariat Allah. Mereka menyadari kemuliaan tidak akan kembali kecuali dengan jihad fi sabilillah. 

 

Beberapa pembesar Bani Israil menjumpai sang Nabi, meminta agar dipilih raja di antara mereka untuk memimpin Bani Israil menegakkan jihad fisabilillah. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ

 

”Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, ”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” [Q.S. AI Baqarah: 246].

 

Dengan penuh kelembutan dan kearifan, Nabi tersebut mengingatkan Bani Israil dari penyimpangan. Beliau mengkhawatirkan Bani Israil akan berpaling ketika syariat Jihad Allah wajibkan.

 

قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ 

 

”Nabi mereka menjawab, ’Mungkin sekali jika kalian nanti diwajibkan berperang, kalian tidak akan berperang."

 

Dengan semangat yang menggelora, Bani Israil menyatakan kemustahilan mereka akan berpaling. 

 

قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ 

 

”Mereka menjawab, "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?”

 

Benar firasat Sang Nabi. Semangat Bani Israil hanyalah letupan sesaat. Ketika datang kewajiban Jihad fi sabilillah, Bani Israil berpaling dari kewajiban, kecuali sebagian kecil dari mereka.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

 

"Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim.” 

[Q.S. AI Baqarah: 246].

ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...