DaLIL ADANYA THORIQOH
Firman Allah:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا
كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu TUJUH THORIQOH; dan Kami
tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami.(Surah Al Mu'minuun 17)
Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya'rany ada sebuah
hadits yang menyatakan :
ان شريعتي جا ئت
على ثلاثما ئة وستين
طريقة...
ما سلك احد طريقة
منها الا نجا .
( ميزان الكبرى للامام الشعرني
: 1 / 30)
"Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda
pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti
selamat". (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )
Dalam riwayat hadits yang lain juga dinyakan bahwa :
ان شريعتي جائت على
ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة
لا تلقى العبد بها
ربنا الا دخل الجنة
( رواه الطبرني )
"Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan
pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah
satunya pasti masuk surga". (HR. Thabrani)
NB : berarti banyak sekali thariqah yang Allah sediakan, maka tidak boleh
kita merasa dirinya paling benar. Dengan demikian ada 360 cara penempuhan utk
menempuh terbentang 7 buah langit dengan 7 buah jalan, dan 7 buah pintunya.
yang tercantum dalam QS [23]: 17.
THORIQOH atau tarekat berarti “jalan”.
Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah bertanya kepada
Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thariqoh)
terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling
utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika
di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.” (dalam
kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah). Para ulama menjelaskan arti kata thariqah
dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan,
meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun
tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang
tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang
yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunat
pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak
beguna. [dalam kitab Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah Imam Ghazali]
<> Thariqoh yang dimaksud dalam pembicaraan ini lebih mengacu kepada
peristilahan umum yang berlaku dikalangan umat Islam di seluruh dunia,
khususnya warga NU, yakni semacam aliran dalam tasawuf (berbeda dengan mistik
atau klenik) yang mengharuskan para pengikutnya menjalankan amalan peribadatan
tertentu secara rutin –biasanya berupa bacaan atau wiridan khusus-- yang
dipandu oleh seorang guru atau mursyid. Hadits yang disebutkan di atas
sekaligus menjadi dalil naqli diperbolekannya ajaran-ajaran thoriqoh.
Para murid yang mengikuti aliran
thoriqoh tertentu sedianya berniat belajar membersihkan hati dengan bantuan
guru atau mursyid mereka dengan cara menjalankan amalan-amalan dan doa-doa
khusus. Jika mereka masih awam dalam masalah keagaman dasar seperti masalah
wudlu, sholat, puasa, nikah dan waris, maka mereka sekaligus belajar itu kepada
sang mursyid. Para murid berbai’at atau mengucapkan janji setia untuk
menjalankan amalan-amalan thariqoh yang dibimbing oleh sang mursyid. Bai’at
thariqoh adalah berjanji dzikrullah dalam bacaan dan jumlah tertentu kepada
guru dan berjanji mengamalkan ajaran islam dan meninggalkan larangannya.
Sebagaimana bermadzab atau mengikuti imam tertentu dalam bidang fikih, para
murid tidak diperkenankan berpindah thoriqoh kecuali dengan pertimbangan yang
jelas dan mampu melaksanakan semua amalan thoriqohnya yang baru. Sementara itu
sang mursyid wajib menyayangi, membimbing, dan membantu membersihkan hati
murid-muridnya dari kotoran dunia. Mursyid harus memiliki sifat kasih sayang
yang tinggi terhadap kaum muslimin, khususnya terhadap murid-muridnya. Ketika
ia mengetahui mereka belum mampu melawan hawa nafsu mereka dan belum mampu
meninggalkan kejelekan, misalnya, maka ia harus bersikap toleran. Setelah ia
menasihati mereka dan tidak memutus mereka dari thoriqah, juga tidak mengklaim
mereka celaka, melainkan senantiasa menyayangi mereka sampai mereka mendapatkan
hidayah. Demikian syarat seorang mursyid yang disebutkan dalam kitab Tanwirul
Qulub. Mursyid harus arif dalam hal kesempurnaan hati, adab-adabnya, dan bersih
dari penyakit-penyakit hati. Mursyid juga harus memiliki ilmu yang dibutuhkan
oleh murid-murdnya, yaitu fikih dan aqa’id tauhid dalam batas-batas yang bisa
menghilangkan kemusyrikan dan ketidakjelasan yang dihadapi oleh mereka di
tingkat awal, sehingga mereka tidak perlu bertanya kepada orang lain. Ada
beberapa thoriqoh yang berkembang di Indonesia. Yang paling banyak pengikutnya,
antara lain, Qodiriyah, Naqsabandiyah, Qodiriyah wan Naqsbandiyah, Syadziliyah.
Dalam Muktamanya ke-26 di Semarang pada bulan Rajab 1399 H bertepatan dengan
bulan Juni 1979 Nahdlatul Ulama meresmikan berdirinya Jam’iyyah Ahlit Thariqoh
Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah dan dikukuhkan dengan suat keputusan PB Syuriah NU
Nomor: 137/Syur.PB/V/1980). Jam’iyyah ini beranggotakan beberapa thariqot di
Indonesia yang mu’tabaroh dan nahdliyah. Mu’tabaroh artinya thariqoh yang
dimaksud bersambung ajarannya kepada Rasulullah SAW.
Sementara Rasulullah menerima ajaran
dari malaikat Jibril dan Malaikat Jibril dari Allah SWT. Nahdliyah maksudnya
adalah bahwa para penganutnya selalu bergerak untuk melaksanakan ibadah dan
dzikir kepada Allah SWT yang syariatnya menurut ahlussunnah wal jama’ah ‘ala
madzahibil arba’ah (sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para
Sabahat Beliau dan disejalaskan oleh imam Madzab empat yakni Hanafi, Maliki,
Syafi’i, dan Hambali). Jam’iyyah Ahlit Thariqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah
sering mengadakan perkumpulan untuk membahas persolan-persoalan keagamaan,
khususnya berkaitan dengan thoriqoh. Jam’iyyah ini juga berfungsi untuk saling
memberikan masukan dan sekaligus membedakan diri dengan aliran-aliran kebatinan
yang tidak muk’tabar dan tidak berdasar pada ajaran Rasulullah SAW. Para
pengamal thoriqoh senantiasa menjauhkan diri dari kehidupan duniawi yang fana;
membersihkan hati; mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sang mursyid dan
murid-muridnya tidak diperkenankan menggandrungi harta benda. Juga kekuasaan.
Ada satu hadits Rasulullah SAW yang menjadi pegangan para pengamal thariqoh.
Ibn Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Di antara qari’ atau
orang yang hafal Al-Qur’an dan memahami maknanya yang paling dibenci oleh Allah
adalah qari’ yang mengunjungi umara (penguasa).” Begitu bencinya mereka dengan
ususan duniawi. Para pengkritik mengatakan bahwa thariqoh adalah sumber
kemunduran umat Islam. Namun dengan penuh kebijaksanaan para pengamal thoriqoh
menjawab bahwa para pengkritik belum merasakan betapa nikmatnya berdzikir dan
mendekatkan diri kepada Allah Sang pencipta. (A. Khoirul Anam) *Tulisan ini
bersandar pada buku “Permaslahan Thariqah: Hasil Kesepakatan Muktamar dan
Muasyawarah Besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Nahdatul Ulama
(1957-2005)” yang dihimpun oleh KH. A. Aziz Masyhuri.