Rabu, 25 Mei 2022

Adakah Syariat, Thoriqoh, Hakikat dalam Islam

 

Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu, Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut:

“Sebagian ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat lautan, dan hakikat Ibarat mutiara. Seseorang tidak akan mendapat mutiara kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”.

“Sebagian ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang ada dalam daging buah”

Analogi tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya Sayyid Bakri bin Muhammad Syatho Al-Dimyati. Perahu itu sebagai sebab untuk mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Lautan itu tempat tujuan (mutiara) tersebut berada. Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu.

Gimana sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Menurut Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf, syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir. Tarekat adalah memperbaiki aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi (tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir. Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin. Hakikat itu menghiasi ruh (sarair).

Kayaknya tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua adalah ranah syariat (pada aspek dzahir). Lalu, kalian masuk thoriqah mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan mendapat cahaya-cahaya hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian (musyahadah) Al-Haq.

Gimana udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar. Makrifat adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub, dan sir).

Sebagai penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian, jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani manusia bisa kembali ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat. Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat.

Semoga kita semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.

Wallahu a’lam bishshowab.

 

Senin, 23 Mei 2022

kisah ibn arabi


   

         Ibnu Arabi yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta'i adalah seorang sufi. Beliau lahir tahun 1165 Masehi (560 Hijriah) dalam sebuah kota benteng bernama Mursia, di timur Andalusia. Claude Addas, dalam buku berjudul “Quest for The Red Sulphur; The Life og Ibn ‘Arabi” menulis bakat rohani Ibn Arabi mengalir deras dari garis ayah dan ibunya. Paling tidak ada tiga pamannya—dua dari garis ibu dan satu dari garis ayah—yang mengilhaminya memasuki jalan rohani.

Kisah pertobatan pamannya yang bernama Abu Muhammad Abdullah al-Arabi al-Thai adalah yang paling sederhana. Orang ini mengalami lompatan rohani yang kerap terjadi pada para wali: sebuah pertobatan sekonyong-konyong yang berlangsung di usia lanjut. Suatu hari, seorang pemuda datang ke apotek Abu Muhammad untuk meminta obat tertentu. Melihat kebodohan pemuda itu dalam soal obat-obatan, Abu Muhammad tertawa meledek. Ternyata pemuda itu adalah orang yang sudah sampai pada ketinggian rohani yang jauh melampaui usianya. Dia pun segera menjawab: “Kebodohanku dalam soal ini tak terlalu buruk. Sebaliknya, hai orang tua, kelalaian dan pembangkanganmu pada Allah bakal mendatangkan banyak keburukan yang besar!” Jawaban pemuda itu terasa sangat menusuk hingga Abu Muhammad langsung minta pemuda itu membimbingnya dalam ibadah. Tak berapa lama setelah itu Abu Muhammad meninggal dunia.

Pangeran Berber Kisah Yahya bin Yughan al-Sanhaji, paman Ibn Arabi dari garis ibu, mungkin membawa kesan paling mendalam. Yahya adalah pangeran Berber yang mendadak sontak melepas tahta dan menginfakkan seluruh hartanya untuk mengabdikan jiwa dan raganya pada Allah. Ibn Arabi menempatkannya sebagai salah satu contoh orang zuhud, yaitu orang yang secara suka rela meninggalkan kenikmatan dunia rendah dan mengutamakan Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalam karya utamanya, al-Futûhât al-Makkiyyah, Ibn Arabi menuturkan rincian kisah pertobatan penguasa Tlemcen ini. Begini kisahnya: Abu Abdullah Al-Tunisi adalah seorang ahli fiqih, agamawan dan abid asal Tunisia. Saat itu dia baru saja pindah ke Desa Al-Ubbad yang tak jauh dari Tlemcen. Hidupnya dia habiskan dalam ibadah di masjid dan mengabdikan diri di jalan Allah. Hingga kini kuburan Abu Abdullah Al-Tunisi menjadi tempat ziarah masyarakat Tlemcen. Suatu hari, abid ini berjalan di pusat kota Tlemcen, sedang pamanku Yahya bin Yughan, pembesar Tlemcen, menunggang kuda di tengah rombongan pengawal dan pasukan. Saat berpapasan, seseorang berbisik kepadanya, ‘Itulah Abu Abdullah Al-Tunisi, orang suci di zaman kita!’ Yahya bergegas mengekang tali kudanya dan berhenti. Setelah berbalas salam, pangeran yang mengenakan pakaian kebesaran itu bertanya, ‘Hai Syaikh, bolehkah aku sholat dengan pakaian ini?’ Syaikh pun tertawa keras. ‘Apa yang kau tertawakan?’ tanyanya.

Syaikh itu menjawab, ‘Betapa dangkal pemahamanmu dan bodohnya dirimu! Dalam keadaanmu yang seperti ini (kau bertanya tentang kesucian bajumu)?! Kau lebih mirip dengan anjing yang berlumuran darah bangkai lalu mengangkat kakinya saat kencing agar tidak mengotori tubuhnya. Kau adalah mangkok yang penuh kotoran. Kau bertanya padaku tentang (kesucian) bajumu sementara kau bertanggungjawab atas setiap derita rakyat yang berada di bawah kekuasaanmu?!’ Raja itu langsung menangis dan melompat turun dari kudanya. Di hadapan semua yang hadir di sana, dia menyatakan mundur dari kerajaannya. Dia kemudian mengabdi pada sang syaikh. Tiga hari setelah itu, sang syaikh membawa tali dan berkata padanya, ‘Raja, tiga hari masa keramahan yang dianjurkan (oleh Nabi Muhammad bagi tiap tamu) telah berlalu. Sekarang pergi dan kumpulkan kayu untuk dijual.’ Maka raja itu pun mulai mencari kayu, memikulnya dan menjualnya di pasar. Rakyat yang menyaksikannya memikul tumpukan kayu segera terharu dan serentak menangis. Setelah menjual kayunya dan mengambil sebagian penghasilannya untuk dimakan, dia menyedekahkan semua sisanya.











Minggu, 22 Mei 2022

Dzun Nun Al-Misri

 

Dzun Nun Al-Misri

Dzun-Nun Al-Mishri adalah seorang tokoh sufi besar di abad ketiga Hijriah. Beliau, yang memiliki nama lengkap Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim Al-Mishri, dilahirkan di Akhmim, sebuah kota kuno di tepi timur Sungai Nil dan dataran tinggi di Mesir, pada tahun 796 M (180 H).

"Al-Mishri" pada nama belakang Dzun-Nun berarti "Mesir", adalah panggilan atau gelar terhadap Beliau dari orang-orang yang memang banyak berasal dari non-Mesir. Beliau belajar, mengajar, mengembara dan mengadakan banyak perjalanan di berbagai wilayah di Jazirah Arab, Maghreb, Palestina dan Syria (Baghdad). Salah satu murid Beliau adalah Sahl Al-Tustari, seorang sufi Persia yang memperkenalkan khazanah tentang Nur Muhammad (Hakikat Muhammadiyah) di dunia Tasawuf. Disebutkan pula di sebuah riwayat, bahwasanya Dzun-Nun memahami rahasia bahasa hieroglyph, sebuah sistem tulisan Mesir Purba yang banyak terdapat di berbagai piramida Mesir dan peninggalan bangunan kuno di Mesir, yang bahkan sampai kini tak sepenuhnya terkuak makna yang ada di dalamnya. Beliau meninggal di Kairo pada tahun 856 M (246 H).

Nama "Dzun-Nun" dan Huruf "Nun"

"Dzun-Nun" adalah julukan bagi Abu Al-Faidh, di mana nama itu secara harfiah berarti "penguasa ikan (nun)" – sebuah nama yang juga pernah disematkan kepada Nabi Yunus a.s. (lihat Q.S. Al-Anbiyaa' [21]: 87) dengan kisah taubatnya yang luar biasa di dalam perut ikan nun.

Dalam sebuah hikayat rakyat setempat disebutkan kisah ketika Dzun-Nun Al-Mishri menumpang sebuah kapal di suatu perjalanan. Di tengah laut, tiba-tiba seorang saudagar yang ikut serta di kapal tersebut kehilangan permatanya yang amat berharga. Karena suatu alasan tertentu, tuduhan pencurian lalu ditujukan terhadap Dzun-Nun. Beliau pun disiksa dan dianiaya, serta dipaksa mengembalikan permata yang hilang itu. Dalam keadaan tersiksa dan teraniaya itu, ia menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdoa, "Duhai Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Tahu." Mendadak seketika itu pula, muncul lah ribuan ekor ikan nun ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata yang lebih besar dan indah di mulutnya masing-masing. Dzun-Nun lalu mengambil salah satu permata dan menyerahkannya ke saudagar tersebut. Sejak peristiwa aneh itulah, ia digelari "Dzun-Nun", sang pemilik ikan nun.

Namun istilah "dzun-nun", menurut Ibnu Arabi, juga memiliki pengertian yang lain, dan secara harfiah berarti pula "pemilik huruf nun" atau "pemilik dawat" – merujuk pada huruf Arab nun yang menyerupai dawat (tempat tinta), berisikan tinta hitam pekat yang dengannya huruf-huruf dituliskan.

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُ‌ونَ

Nun — dan demi qalam (pena) dan apa yang mereka tulis. — Q.S. Al-Qalam [68]: 1

Nun, menurut Ibnu Arabi, memiliki arti yang lebih dalam dan menyimbolkan makna tentang sebuah rahasia, sebuah pintu menuju penerimaan taubat, Kemurahan dan Welas Asih-Nya, di mana hanya sedikit orang melalui pintu tersebut: yakni para pemilik nundzun-nun.

Huruf "Nun", menurut Ibnu Arabi, memiliki arti yang lebih dalam dan menyimbolkan makna tentang sebuah pintu rahasia menuju penerimaan taubat, Kemurahan dan Welas Asih-Nya

bnu Arabi merujuk pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Dzun-Nun Al-Mishri: "Aku senantiasa berpegang teguh pada pintu Tuhanku sampai Dia menerimaku."

Inilah makna-dalam dari dzun-nun: sebuah skema keteguhan hati yang sangat kuat memohon Kemurahan-Nya, yang di dalam Al-Qur’an disimbolkan melalui kisah Nabi Yunus ketika Beliau a.s. tetap teguh kukuh berpegang pada pintu Tuhannya ("laa ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadz-dzalimin" — tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim) meski terpenjara di dalam perut ikan, hingga kemudian taubatnya diterima: "Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari al-gham" (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]:87-88).

”Al-Gham” di ayat tersebut dalam Bahasa Arab merujuk pada suatu kondisi duka nestapa karena suatu kegelapan yang amat sangat: di dalam perut ikan, di tengah hamparan samudera yang luas, dan pada malam hari di mana tiada secercah cahaya pun yang masuk. Kedua tokoh ini, yang sama-sama dijuluki "Dzun-Nun", adalah para pejalan di pintu nun tersebut. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada pintu keridhaan-Nya meski melalui kehidupan yang gelap gulita, al-gham karena kegelapan yang berlapis-lapis bagaikan tercelup di dalam dawat (nun) berisi tinta hitam pekat: sebuah pintu rahasia penerimaan taubat, yang terhubung langsung pada Kemurahan dan Welas-Asih-Nya — karena dari "tinta" kegelapan itulah Dia berkenan hadir dan "menuliskan" asma-asma-Nya yang tiada berbatas.

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ‌ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun-Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari ‘al-gham’ (duka karena kegelapan yang amat sangat). Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. — Q.S. Al-Anbiyaa' [21]: 87-88

 

Ajaran

Buya Hamka, dalam bukunya Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, mengulas sekelumit tentang pokok-pokok ajaran tokoh sufi yang luar biasa ini.

Dzun-Nun Al-Mishri banyak menambahkan jalan untuk menuju Allah dan memiliki pemahaman yang sangat dalam tentang konsep ma'rifat (mengenal Allah). Apa yang beliau tuju adalah "mencintai Allah, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang telah diturunkan, dan takut akan terpaling jalan."

Ketika ditanya apa sesungguhnya hakikat cinta tersebut, Beliau menjawab: "Bahwa engkau cinta apa yang dicintai Allah, engkau benci apa yang dibenci-Nya, engkau memohonkan ridha-Nya. Engkau tolak apa-apa yang merintangimu dari jalan menuju Dia. Engkau tidak takut akan kebencian orang yang membenci. Engkau tidak mementingkan diri dan melihat diri sendiri, oleh karena dinding yang sangat tebal untuk melihat-Nya adalah lantaran engkau melihat diri sendiri."

"Orang yang arif adalah orang yang bangga dalam kefakirannya. Bila disebutkan asma Allah, ia bangga. Bila disebutkan nama dirinya, ia merasa fakir."

"Bukanlah orang yang 'berisi' (berpengetahuan) orang yang sungguh-sungguh menuntut dunia, sementara meringankan urusan akhiratnya. Bukan orang yang lekas marah di waktu harus memaafkan, dan takabbur ketika harus tawadhu'. Bukan orang yang kehilangan taqwa karena labanya, bukan orang yang marah ketika mendengar ia diperkatakan, dan bukan orang yang zuhud pada perkara yang disukainya saja, dan bukan orang yang meminta orang lain mementingkannya. Bukan orang yang lupa akan Allah di tempat taatnya, dan mengingat Allah hanya di waktu hajat kepada-Nya. Bukan pula orang yang mengumpulkan berbagai ilmu mengenal Tuhan tapi lebih mendahulukan hawa nafsunya. Bukan pula orang yang sedikit malunya di hadapan-Nya padahal Allah tetap menutup auratnya, dan bukan orang yang lemah melawan musuhnya (yakni syaithan). Bukan orang yang tak sanggup membuat muru'ah (menjaga martabat dan budi pekerti sehingga tidak janggal atau salah dalam pergaulan) menjadi pakaian, adab menjadi perisai, dan taqwa menjadi perhiasan. Bukan pula orang yang mengambil ilmu pengetahuan hanya untuk berbangga dan menyombongkan diri dalam majelisnya."

Cinta kepada Allah

Dikisahkan pula, suatu hari Dzun-Nun bertemu dengan seorang Rahib. Beliau bertanya pada Rahib itu, "Apa arti cinta menurut pendapat tuan?" – sebab seorang sufi besar tiada akan enggan menerima hikmah dari orang lain, meski berbeda agama. Rahib itu pun menjawab, "Cinta sejati tak mau dibelah dua. Kalau cinta telah tertumpah pada Allah, tidak ada lagi cinta kepada yang lain. Kalau cinta tertumpah pada yang lain, tidaklah mungkin disatukan cinta itu kepada Allah. Sebab itu tafakurlah, selidiki dirimu, siapakah yang lebih engkau cintai!"

Lalu Dzun-Nun meminta pula diterangkan tentang inti sari cinta. Rahib itu menjawab, "Akal pergi, air mata jatuh, mata tak mau tidur, rindu dendam memenuhi jiwa, dan kecintaan berbuat sekehendaknya."

Setelah itu, kata Dzun-Nun pula, "Kami pun berpisah. Beberapa masa kemudian ketika aku menunaikan haji di Mekkah, kulihat Rahib itu sedang thawaf. Kutemui dia, dan tubuhnya tampak lebih kurus dari dahulu. Dia berkata kepadaku, "Hai Abu‘l Faidh! Janji perdamaian telah ditandatangani, pintu pun telah terbuka, dan Dia telah menganugerahiku jalan memilih Islam. Sebab apa yang kukatakan kepadamu tempo hari adalah kata-kata yang rupanya oleh bumi tak terpikul dan oleh langit tak tertahan, bukit pun tak dapat menanggungnya. Hanya laki-laki yang tabah!"

Kesimpulan ajaran Beliau adalah sebuah kunci kehidupan di dunia, yakni berjalan pada garis yang ditentukan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan menjadi insan yang takut terpaling dari garis ketentuan itu karena menuruti hawa nafsu dan syahwat. Kata Beliau pula, "Alamat cinta kepada Allah adalah mengikuti langkah Muhammad SAW dalam mencintai-Nya, baik dalam budinya atau perbuatannya, menuruti titahnya dan menghentikan apa-apa yang dilarangnya, dalam garis yang ditentukan-Nya."

Taubat dan Ma'rifat

Taubat menurut Beliau ada dua macam: "Taubat orang awam, yakni dari dosa; dan taubat orang khawash (khusus), yaitu dari kelalaian."

Ma'rifat pun ada tiga macam. Ma'rifat mukmin biasa, ma'rifat ahli bicara (mutakallimin) dan hukama (filsuf), dan ma'rifat Waliullah yang dekat kepada Allah dan kenal akan Allah dalam hatinya. Ma'rifat inilah yang setinggi-tinggi martabat.

Dalam pembagian ini, jelaslah ketiga jenis ma'rifat itu. Orang mukmin-biasa mengenal Allah karena memang demikianlah ajaran yang diterimanya. Orang filsuf dan mutakallimin mencari Allah dengan perjalanan akalnya. Dan oleh perhitungan akal dan manthik, maka sampailah mereka kepada adanya, tapi belum tentu dirasakan lezatnya. Tapi orang-orang Muqarrabin, mencari Allah dengan pedoman cinta. Yang lebih diutamakan adalah ilham, atau faidh (limpah kurnia Allah), atau kasyaf (dibuka Allah hijab batin dalam alam keruhanian). Di sana, akal tak berjalan lagi, karena sampai di derajat mustawa (bersemayam).

Pernah ditanyakan orang kepada Beliau, "Dengan jalan apa engkau mengenal Tuhanmu?" Beliau menjawab, "Aku mengenal Tuhanku adalah dengan Tuhanku sendiri. Kalau bukan Tuhanku, tidaklah aku mengenal-Nya."

Itulah tauhid yang semurni-murninya.

Beliau pun menambahkan penjelasan tentang cinta, yakni suatu cinta timbal balik antara Khalik dengan makhluk, antara yang mencintai dengan yang dicintai. Dengan cinta seperti inilah si hamba tertarik, lebih dari tarikan besi berani kepada besi biasa, kian lama kian mendekat kepada yang dicintai itu sehingga akhirnya "bersatu", tenggelamlah zatnya ke dalam zat Tuhannya. Ajaran ini hanya dapat dirasakan setelah menempuh tingkatan-tingkatan (maqam) tertentu. Begitulah menurut Beliau, cinta semacam ini hanya dapat dirasakan, dan sia-sia kalau diajarkan – harus dirahasiakan dari orang yang hanya mengenal arti cinta secara maddi (yang disaksikan oleh panca indera).

Pandangan cinta dan pengertian (mahabbah dan ma'rifat) inilah yang meninggalkan jejak yang sangat nyata bagi para tokoh besar tasawuf yang datang kemudian, seperti Tustari (wafat 898 M), Al-Nakhsyabi (wafat 859 M), Ibnu Al-Jalaak dari negeri Syam yang pernah belajar sendiri kepada Beliau, dan Al-Khazzaar (wafat 901 M) salah seorang sahabat Beliau.

Keterangan:

Tulisan ini disarikan dan diperkaya dari buku Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Bab "Zin-Nun", karya Prof. Dr. Hamka, 1983

Pembahasan tentang makna “dzun-nun” dan huruf nun adalah dari Kitaab Al-Miim, wa Al-Waw, wa Al-Nun karya Ibnu Arabi.

 

Sabtu, 21 Mei 2022

Kisah Hasan Al-Basri

Kisah Tabi’in: Hasan al-Bashri

Hasan al-Bashri

 

Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri. Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.

Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.

Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.”

Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah sahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.

Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.

Adapun Ummu Salamah –kalau pembaca belum tahu- adalah seorang wanita Arab yang termasuk paling sempurna akalnya, banyak keutamaannya, dan teguh pendiriannya. Beliau juga termasuk istri nabi yang paling luas pengetahuannya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadis. Beliau juga termasuk dari sedikit bilangan wanita di masa jahiliyah yang mampu baca-tulis.

Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali ibunda beliau, Khairah, harus keluar dari rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, maka Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam. Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian, kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi. Pertama karena Hasan al-Bashri adalah seorang dari mukminin sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.

Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.

Seperti yang diceritakan oleh Hasan al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik ke atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.

Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah-rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada sahabat-sahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.

Meski demikian, kekaguman yang paling menonjol jatuh kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dia mengagumi keteguhan agamanya, ketekunan ibadahnya, kezuhudannya terhadap kesenangan dunia, kefasihan lidahnya, hikmah-hikmahnya yang berkesan di hatinya, kemantapan tutur katanya dan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan hati. Sehingga beliau berusaha berakhlak dengannya dalam hal takwa dan ibadah serta mengikuti jejaknya dalam memberikan keterangan dan kefasihan bahasanya.

Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan al-Bashri, yang dinisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang di Bashrah.

Di saat Hasan al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para sahabat dan tabi’in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.

Hasan al-Bashri tinggal di masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas, Habru umati Muhammad (Ustadnya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadis, qiraah, fiqh, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.

Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendantangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.

Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.

Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.

Khalid bin Shafwan bercerita. “Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hirah, beliau berkata, ‘Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain.”

Aku berkata, “Semoga Allah menjaga Anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya’.”

Beliau berkata, “Ceritakan apa yang Anda ketahui tentangnya.” Saya berkata, ‘Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma’ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukannya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dimilikinya.”

Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?”

Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindak sewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan al-Bashri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.

Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitulah, ketika Hasan al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah: “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”

Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti: “Cukup Wahai Abu Sa’id, cukup.”

Namun Hasan al-Bashri berkata, “Wahai saudaraku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya.”

Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras: “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut!”

Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri.

Dibawalah Hasan al-Basri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim, dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.

Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al-Basri, dia berkata ramah: “Silahkan duduk di sini wahai Abu  Sa’id, silahkan..”

Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh waibawa Hasan al-Basri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas.

Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat.” Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Basri lalu diantarkan sampai di depan pintu.

Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Basri berkata, “Wahai Abu Sa’id sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu?”

Beliau berkata, (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Kejadian serupa sering dialami Hasan al-Basri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, di mana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya di mata para penguasa tersebut dengan lindungan dan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Basri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”

Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Basri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”

Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”

“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Basri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.

Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata; “Wahai kaum barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Hasan al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Ibnu Hubairah, sedangkan Hasan al-Basri didekati dan dicintai…”

Allah memberikan karunia umur kepada Hasan al-Basri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih. Warisan yang diunggulkannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusan dan nasihat-nasihatnya yang mampu menyegarkan jiwa  dan mampu menyentuh hati, menjadi petunjuk bagi mereka yang lalai akan hakikat kehidupan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapi dunia.

Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.”

Dan Anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini. Maka aku katakan bahwa dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan.”

Adapun jawaban terhadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan keadaan orang lain dalam menyikapi dunia beliau berkata, “Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat atas diri kita? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia kita, kita rusak akhlak kita dan kita perbaharui rumah, ranjang serta pakaian kita. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.

Makanannya hasil menipu, amalnya karena terpaksa, ingin yang manis setelah yang asam, ingin yang panas setelah yang dingin, ingin yang basah setelah yang kering, hingga manakala telah penuh perutnya ia berkata, “Wahai anakku, ambill obat pencerna.” Hai orang yang dungu, sesungguhnya yang kau cerna itu adalah agamamu.

 

Mana tetanggamu yang lapar?

Mana yatim-yatim kaummu yang lapar?

Mana orang miskin yang menantikan uluranmu?

Mana nasihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya?

 

Kalau saja engkau sadari hisabmu. Tiap kali terbenam matahari, berkuranglah satu hari usiamu dan lenyaplah sebagian yang ada padamu.”

Kamis malam di bulan Rajab 110 H, Hasan al-Basri pergi memenuhi panggilan Rabb-nya. Pagi harinya menjadi pagi duka cita bagi kota Bashrah.

Jenazahnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah shalat Jumat di masjid Jami Basrah, masjid tempat di mana beliau menghabiskan banyak waktu hidupnya, belajar dan mengajar serta menyeru ke jalan Allah.

Orang-orang mengiringkan jenazahnya dan hari itu tak ada shalat ashar di Masjid Jami tersebut karena tak ada yang menegakkannya. Dan shalat jamaah ashar tidak pernah absen sejak dibangunnya masjid itu kecuali di hari itu. Hari di mana Hasan al-Basri berpulang ke haribaan Rabb-nya.


ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...