Rabu, 08 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Al-Muffaridiyyah

 Thoriqoh Al-Muffridyah 

Kajian tentang tarekat, baik menyangkut doktrin dan ajarannya maupun tokoh-tokohnya, telah banyak dilakukan oleh sejumlah sarjana. Snouck Hurgronje

(1906), untuk pertama kalinya mencatat tentang Syekh Abdurrauf al-Sinkili sebagai tokoh kunci tarekat Syattariyah di Aceh khususnya, dan di dunia Melayu- Indonesia pada umumnya. Begitu juga kajian mendalam tentang tarekat Syattrariyah dilakukan oleh D.A. Rinkes (1878-1954), seorang pegawai pemerintah Belanda yang menulis disertasi berjudul Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra Tarekat Syattariyah en Java. Dalam disertasinya ini, Rinkes, antara lain, mengemukakan tentang riwayat hidup al-Sinkili, tentang zikir tarekat Syattariyah, dan tentang ajaran martabat tujuh al- Sinkili, khususnya yang berkembang di Jawa. Setelah kedua penulis Belanda tersebut, banyak sekali penulis yang datang kemudian menghasilkan karya tentang tarekat di Indonesia21.

Dari penggambaran berbagai penulis tasawuf dan tarekat, dapat diketahui beberapa hal, pertama, bahwa tasawuf dan tarekat adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Tasawuf dan tarekat berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf dan tarekat memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya22, kedua, studi tentang gerakan tarekat di Sukaharjo menunjukkan bahwa ekspresi keagaman kaum tarekat bukan hanya merupakan ekspresi kesolehan personal tapi juga mencerminkan prestis cultural,

status sosial dan pembedaan berbasis kelas dari para penganutnya. Disini, terdapat kaitan erat antara institusi tarekat dan pandangan keagamaan dalam turut membentuk perubahan sosial ekonomi masyarakat Disamping itu, tarekat juga menunjukkan bahwa agama membentuk kesadaran, konstruksi kognitif, dan juga sumber referensi tindakan individual dan kolektif dalam berhubungan dengan dunia material dan sosial23.

Dari beberapa kajian mutaakhir yang membahas tarekat di Indonesia, ada dua penulis tentang tarekat yang karyanya perlu dikemukakan dalam tesis ini yaitu: pertama Martin Van Bruinessen dengan judul (1) Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, diterbitkan Mizan Bandung tahun 199224,(2) Tarekat dan Politik: Amalan Untuk Dunia Atau Akherat?, dalam majalah Pesantren vol. IX no. 1 (1992), hal. 3-14. Kedua, Mahmud Suyuthi, karya tulis disertasi pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya 1998 yang telah diterbitkan oleh Galang Printika Yogyakarta pada tahun 2001, dengan judul Politik Tarekat, Studi tentang Hubungan Agama, Negara dan Masyarakat25. Buku ini menjelaskan hubungan politik pemerintah Orde Baru dengan tarekat.

Martin dalam bukunya, menjelaskan bahwa tarekat sesungguhnya tidak hanya mempunyai fungsi keagamaan. Setiap tarekat merupakan semacam keluarga besar, dan semua anggotanya menganggap diri mereka bersaudara satu sama lain. oleh karena itu beberapa tarekat tertentu mempunyai kekuatan politik

yang lumayan. Banyak Syekh tarekat yang kharismatik karena banyak pengikutnya serta besar pegaruhnya sehingga para syekh tersebut memainkan peranan penting dalam politik. Pihak pemerintah melihat para syekh ini sebagai ancaman atau sebagai sekutu yang bermanfaat, tetapi mustahil mengabaikan mereka.26

Selain itu, Martin menjelaskan tarekat di Indonesia beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan pesat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan sosial yang terjadi, di mana proses modernisasi diiringi pula oleh memudarnya ikatan sosial tradisional, telah menimbulkan kekosongan emosional dan moral. Tarekat dan aliran mistisisme lain telah mampu memenuhi kebutuhan yang dirasakan orang banyak tersebut. Organisasi informal seperti itu menawarkan suasana emosional dan spiritual yang semakin sulit dicari dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, proses depolitisasi Islam beberapa dasawarsa mendorong umat menaruh perhatian pada pengalaman ruhani dan akhlaq pribadi. Perkembangan ini turut pula menambah popularitas tarekat.27.

Dalam karyanya, Mahmud Suythi menjelaskan bahwa pada dasarnya tarekat adalah sebagai bentuk kehidupan sufi atau tasawuf, merupakan kegiatan keagamaan murni yang tidak ada hubungan dengan politik. Namun, ketika intervensi pitik Orde Baru menjangkau segenap jalur kehidupan masyarakat, maka tarekat mempunyai dampak politik yang tidak terelakkan.28 Lebih lanjut

dijelaskan bahwa munculnya persoalan gerakan tarekat Naqsabandiyah di Jombang berhadapan dengan pemerintah Orde Baru adalah bermula sejak Kiai Musta’in Ramli, pimpinan Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Jombang mulai   “digarap”   oleh   “orang-orang”   Jakarta   dan   Surabaya   yang   secara

khusus ditugasi untuk menarik Kiai Musta’in Ramli agar bersedia masuk Golkar, dan kemudian menjelang Pemilu 1977 Mustai’n Ramli menyatakan diri masuk Golkar. Langkah Kiai Musta’in Ramli itu mendapat reaksi yang keras, baik di lingkungan keluarga, di kalangan pengamal tarekat Qadiriyah

Wa Naqsabandiyah maupun  di  jajaran  NU,  yang  mengakibatkan  pecahnya

 

tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah29

 

Melalui berbagai ungkapan di atas, tergambar sangat jelas bahwa tarekat meskipun fungsi dasar utamanya adalah keagamaan, namun ia memiliki banyak fungsi, seperti sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Cukup banyak catatan sejarah tentang keterlibatan tarekat di bidang gerakan politik dan pemberontakan melawan penjajah di Indonesia, seperti di Banten (1888), di Lombok (1891), di Sidoharjo (1903), dan lain-lain. Melihat kenyataan ini timbul pertanyaan, apakah tarekat itu merupakan anti pemerintah, penjajah dan wadah kaum pemberontak?

Menurut Martin, Tarekat-tarekat itu, dalam dirinya tidaklah anti pemerintah dan penjajahan, tetapi menarik banyak orang-orang yang tidak puas   secara   politik   dan   ekonomi,   dan   iapun   menyediakan   jaringan

komunkasi yang penting. Sejauh tidak ada organisasi lain, barangkali tarekat

merupakan wahana terbaik untuk melancarkan protes. Perlawanan dan pemberontakan tidak diorganisir oleh tarekat, tetapi kadang-kadang terbukti bahwa tarekat merupakan alat yang sangat bermanfaat bagi para kelompok perlawanan sebagai suatu jaringan organisai dan jaringan komunikasi. Dan, kharisma seorang Syekh tarekat dapat merupakan asset besar dalam upaya

memperoleh dukungan rakyat30

 

Tentang gerakan sosial tarekat lokal Mufarridiyah adalah sebuah gerakan para pengikut tarekat lokal Mufarridiyah yang berpusat di Tanjungpura berhadapan dengan pemerintah Orde Baru sehingga mengalami pembatasan, penekanan, serta pemberangusan/pelarangan aktivitas Mufarridiyah. Gerakan yang dilancarkan bukan merupakan perlawanan fisik, melainkan berupa penolakan memberikan dukungan politik terhadap Golkar, dan turut melakukan aktivitas keagaman maupun sosial.


Pengertian lokal yang digunakan dalam kajian tarekat ini adalah mengikuti paradigma kalangan tarekat dan ilmuan tarekat yang mengelompokkan tarekat kepada dua kategori besar, yaitu tarekat mu’tabarah (yang dipandang sebagai tarekat yang sah karena memiliki silsilah atau pertalian hubungan guru murid sampai dengan Rasulullah SAW tanpa terputus dan ajaran-ajarannya sesuai dengan garis yang ditentukan oleh faham ahli sunnah wal jamaah. Bila suatu tarekat tidak memenuhi ketentuan ini ia disebut sebagai tarekat ghairu mu’tabarah.31 Selanjutnya oleh kalangan ilmuan sosial tentang tarekat seperti Martin Van Bruinessen dan Mahmud Sujuthi menyebut tarekat ghairu

mu’tabarah sebagai tarekat lokal karena selain tidak termasuk dalam kelompok tarekat mu’tabarah yang dikelompokkan Jam’iyah Ahlit Thariqah Mu’tabarah, juga ajarannya sering bercampur dengan mistik setempat.32

Mengurai gerakan Mufarridyah berdasarkan konsep-konsep perlawanan sosial yang ada, penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan konsep gerakan Ratu Adil dalam Sartono Kartodirjo. Teori Ratu Adil memang merupakan alat analisa untuk menjelaskan perlawanan kaum tani terhadap penguasa. Menurut Joko Suryo, gerakan Ratu Adil merupakan gerakan petani tradisional. Dikatakan tradisional, karena keterlibatan rakyat berdasarkan sentiment-sentimen, perasaan- perasaan dan ikatan-ikatan primordial, sehingga gerakan perlawanan sangat bercorak lokal atau regional. Gerakan perlawanan rakyat yang oleh Karodirdjo dirumuskan sebagai Gerakan Anti Kekerasan, Gerakan Ratu Adil, Gerakan Revivalisme dan Gerakan Sektarienisme termasuk ke dalam kategori gerakan perlawanan tradisional. Ciri lain gerakan perlawanan tradisional adalah penggunaan ideology milenarisme, mesianisme, eskatologis, nativisme, perang jihad dan revivalisme33

Memasuki abad XX, gerakan perlawanan rakyat telah mengalami perubahan terutama dalam membentuk solidaritas. Keikutsertaan rakyat dalam gerakan tidak lagi berdasarkan sentiment-sentimen, perasaan-perasan, dan ikatan primordial, tetapi berdasarkan pertimbangan kepentingan bersama. Namun, ciri- ciri gerakan perlawanan tradisional tidak sepenuhnya menghilang, seperti

orientasi ideology milenarisme, mesianisme, eskatologisme, nativisme, perang jihad dan revivalisme, sehingga terjadi percampuran antara bentuk solidaritas berdasarkan kepentingan bersama dengan ideology tradisional. Bentuk perlawanan rakyat yang bersifat campuran itu dinamakan gerakan perlawanan transisional34

Oleh sebab itu penulis lebih cenderung melihat gerakan Mufarridiyah sebagai perpaduan teori gerakan Rakyat Kartodirdjo yang menggunakan konsep Ratu Adil dengan teori Glock dan Stark tentang gerakan keagamaan berdasarkan konsep Deprivasi. Menurut teori Glock dan Stark, cakupan gerakan sosial meliputi dimensi keagamaan, politik dan sosial. Secara konseptual, gerakan sosial (sosial movement) mengacu pada berbagai jenis tindakan kolektif dalam arti luas atau melakukan perubahan atau mempertahankan pranata sosial

tertentu35.

 

Lebih lanjut menurut Glock dan Stark, pada dasarnya suatu gerakan lahir bersumber dari apa yang disebut dari kondisi “ketidak beruntungan” (relative deprivations), yaitu suatu situasi yang dipersepsikan oleh anggota

kelompok secara kolektif sebagai situasi tidak menguntungkan, tidak adil

 

atau tidak benar. Sementara mereka telah memiliki perepsi sendiri tentang keberuntungan, keadilan, kebenaran dan harapan mewujudkannya. Lebih jauh  kondisi  ketidak  beruntungan  dimaksud  menurut  konsep  ini  dapat

dirunut kepada salah satu atau bersama-sama dari lima jenis sumber, yaitu devrivasi ekonomi, sosial, organisme, etik dan psikis36.

Mengacu  pada pengertian dan konsep gerakan seperti dimaksudkan di atas, maka Mufarridiyah muncul sebagai salah satu gerakan sosial keagamaan yang mengalami ketidak beruntungan, antara lain karena ditekan supaya masuk Golkar, dibatasi ruang gerak sosial keagamaannya, dirampas haknya memakai masjid Aziziyah yang ditempati sejak lama sebagai tempat berzikir rutin, difitnah sebagai aliran sesat, dipecah melalui intervensi Golkar serta diberangus melalui pelarangan beraktivitas oleh kejaksaan di beberapa tempat.

Dalam kondisi demikian mereka menyusun dan melakukan perlawanan melalui konteks menyeluruh sebagai sebuah aliran keagamaan. Konteks tersebut meliputi: perubahan sosial yang dialami individu-invidu; deprivasi yang mereka rasakan bersama melalui proses interaksi sosial antar mereka; absennya kelembagaan yang mereka pandang mampu mengatasi deprivasi; tumbuhnya harapan baru yang diberikan oleh aliran keagaman baru tersebut untuk mengatasi deprivasi, munculnya pemimpin yang mampu menyediakan kelembagaan baru guna mewujudkan harapan- harapan baru tersebut dan membimbing individu-individu tersebut ke arah perilaku kolektif menjadi keyakinan umum (generalized belief) yang dituntun

oleh symbol-simbol keagamaan.

 

Senin, 06 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Qodariyah

 

Silsilah Tharîqah Qâdiriyah adalah sebagai berikut:

(1) Allâh Swt,
(2) Jibril As,
(3) Sayyidina Muhammad Saw.,
(4) Sayyidina Ali ibn Abi Thâlib,
(5) Sayyidina Hasan ibn Ali,
(6) Sayyidina Husain ibn Ali,
(7) Syaikh Ali Zainal Abidin,
(8) Syaikh Muhammad al-Baqir,
(9) Syaikh Imam Ja’far al-Shâdiq,
(10) Syaikh Musa al-Kazhim,
(11) Syaikh Ali ibn Musa al-Ridha,
(12) Syaikh Ma’ruf ibn Fairuz al-Karkhi,
(13) Syaikh Sari al-Saqathi,
(14) Syaikh Abu al-Qasim Junaidi al-Baghdadi,
(15) Syaikh Abu Bakar al-Syibli,
(16) Syaikh Abdul Wahid al-Tamimi,
(17) Syaikh Abu al-Farraj al-Tursusi,
(18) Syaikh Abu al-Hasan Ali al-Hakari,
(19) Syaikh Abu Sa’id Mubarak al-Makhrumi,
(20) Syaikh Abdul Qodir al-Jailani,
(21) Syaikh Abdul Aziz,
(22) Syaikh Muhammad al-Hattaq,
(23) Syaikh Syamsuddin,
(24) Syaikh Syarofuddin,
(25) Syaikh Zainuddin,
(26) Syaikh Nuruddin,
(27) Syaikh Waliyuddin,
(28) Syaikh Hisyamuddin,
(29) Syaikh Yahya,
(30) Syaikh Abu Bakar,
(31) Syaikh Abdul Rahim,
(32) Syaikh Utsman,
(33) Syaikh Kamaluddin,
(34) Syaikh Abdul Fatah,
(35) Syaikh Murad,
(36) Syaikh Syamsuddin (Makkah),
(37) Syaikh Ahmad Khatib Sambas (w. 1307/1878 di Makkah),

Sumber: Tsamrah al-Fikriyah, halaman: 25.

Al-Kurdy (Syaikh Muhammad Amin al-Kurdy: 1994), Said (2003,37-38), dan Aqib (2004, 125-126) menyebutkan nama-nama tharîqah dari silsilah Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib RA. Intinya sebagai berikut:

1.   Pengamal tharîqah setelah Sayyidina Ali Ibnu Thâlib Ra. wafat disebut golongan “Alawiyah”, yaitu silsilah nomor 4, sampai pada periode Abu Qâshim Junaidi al-Baghdadi.

2.   Setelah Abu Qashim wafat sampai periode Syaikh Abdul Qâdir Jailani yaitu nomor 19, disebut golongan pengamal “Junaidiyah” atau “Baghdadiyah”.

3.   Setelah Syaikh Abdul Qâdir Jailani sampai dengan masa Syaikh Ahmad Khatib Sambas, yaitu silsilah nomor 34, disebut dengan tharîqah “Qâdiriyah”.

4.   Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat, tharîqah yang dipegangi disebut tharîqah “Qâdiriyah wa Naqsyabandiyah”.

 

Minggu, 05 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Naqsabandiyah Al-Kholidiyah



Silsilah Al Masyayikh Toriqoh An Naqsyabandiyyah  Al Kholidiyyah Al Mujaddadiyyah  Punggur Lampung Tengah

1. Allah SWT

2. Malaikat Jibril AS

3. Nabi Muhammad SAW

4. Sahabat Abu Bakar As Sidiq RA

5. Sayyidina Salman Al Farisi

6. Syeh Qosyim Ibnu Muhammad

7. Syeh Ja’far Sodiq

8. Syeh Abu Yazid Al Bustomi

9. Syeh Abu Hasan Al Khirqoni

10. Syeh Abu ‘Ali Al Fadhol

11. Syeh Yusuf Al Hamdani

12. Syeh Abdul Kholiq Al Fakhdawani

13. Syeh ‘Arif Riwikari

14. Syeh Ahmad Anjairi Fa’nawi

15. Syeh ‘ali Romitani

16. Syeh Babas Samasi

17. Syeh Amirul Kilal

18. Syeh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi

19. Syeh A’laudin Al Ator

20. Syeh Ya’qub Al Jarkhiyu

21. Syeh ‘Ubaidullah Ahror

22. Syeh Muhammad Zahid

23. Syeh Khowajah Muhammad Darwisy

24. Syeh Maulal Karim

25. Syeh Baqi Billah

26. Syeh Faruqy Sirhindi

27. Syeh Muhammad Ma’sum

28. Syeh Syaifudin

29. Syeh Muhammad Nur Badwani

30. Syeh Habibullah Jana Janan

31. Syeh ‘Abdullah Dahlawi

32. Syeh Kholid Baghdadi

33. ‘Abdullah Efendi Al Makiy

34. Syeh Sulaiman Efendi Al Quraimy

35. Syeh Isma’il Al Barusiyu

36. Syeh Sulaiman Eendi Az Zuhdi Sohib Majmu’atir Rosa’il

37. Syeh ‘Ali Ridho Makkah Jabal Abi Qubais

38. Syeh Muhammad Yahya Baron

39. Syeh Muhammad Umar Sufyan Baron

40. Syeh Al Hajj ‘Ali Hasyim Punggur

41. Syeh Al Hajj Muhammad Muhtar Ibnu Imam Ghozali Shohibul Ma’had Baitul Mustaqim

 

Untuk versi Arab ataupun Nadhoman sudah admin sertakan di atas. Dan Silsilah ini tertulis pada tanggal 4 Februari 2019. Jika ada perubahan atau kesalahan segera admin perbaiki. Semoga bermanfaat dan terimakasih, Wassalam Wr. Wb


Thoriqoh Ash-Shadziliyah

 

Thoriqoh Ash-Sadziliyah

Pendiri

Tarekat Syadziliyah didirikan oleh Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Nama Lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim bin Qushay bin Yusuf bin Yusya' bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Abu Muhammad Hasan bin Ali Kwj. dan Fatimah binti Rasulullah ï·º

Nama beliau adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, Julukanya adalah Abul Hasan dan nisbat kelahirannya adalah Asy Syadzili. al-Syadzili lahir di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah pada tahun 593 H (1197 M). menghapal al-Quran dan pergi ke Tunis ketika usianya masih sangat muda. Ia tinggal di desa Syadzilah. Oleh karena itu, namanya dinisbatkan kepada desa tersebut meskipun ia tidak berasal dari desa tersebut

Dasar

Secara pribadi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa, dan hizib. Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari atau nama lengkapnya Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari]] (658 - 709 H )/ (1260 - 1309 M) [3] adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.

Melalui sirkulasi karya-karya Ibnu Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.

Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh Al-Ghazali dan Abu Talib al-Makki atau al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid Al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, mewarisi anda ilmu. Sementara Kitab Qut al-Qulub, karya Abu Talib al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atha'illah.

 

Sabtu, 04 Juni 2022

Kisah Ma'ruf Al-Karhi

 





Nama lengkapnya adalah Ma’ruf bin Faizan Abu Mahfudz al-Ibid bin Firus al-Karkhi. Ia adalah seorang ulama sufi yang dikenal dengan al-Karkhi, sebuah nama yang dinibatkan kepada nama tempat kelahirannya.

Dalam buku terbarunya yang berjudul “Allah dan Alam Semesta”, Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan hampir semua sumber-sumber sejarah yang ada sepakat bahwa Ma’ruf al-Karkhi adalah orang pertama yang membakukan dasar pengertian tasawuf.

Menurut Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah merengkuh segenap hakikat Ilahi, dan berpaling serta menanggalkan segenap yang ada di tangan makhluk. Dari definisi ini, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi menempatkan tasawuf sebagai wasilah atau instrumen mencapai ma’rifah atau pengetahuan esoteris. Subyek atau aktor ma’rifah sendiri disebut al-‘arif.

Dalam pandangan Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah kecenderungan metafisis yang didambakan setiap jiwa manusia untuk mencapai tingkat fana dan bersatu (ittihad) dengan Yang Bersifat Ilahi. Selain itu, tasawuf juga adalah zuhud atau praktik asketisme.

“Singkatnya, dalam pandangan Ma’ruf, tasawuf adalah ma’rifah dan zuhud,” tulis Said Aqil.

Selain itu, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi juga dikenal sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan satu bentuk tarekat dalam tasawuf. Ia juga yang pertama mengangkat ide tentang al-wilayah (mabuk spiritual) karena kecintaan kepada Allah SWT, dan ia merasa baru sadar setelah bersua dengan-Nya.

Dengan pula Ma’ruf al-Karkhi melihat bahwa fana-nya orang-orang bertakwa adalah sebuah keabadian dan kematian mereka adalah sebuah kehidupan, sebagimana diungkap dalam syairnya, “Kematian orang-orang bertakwa adalah sebuah kehidupan yang kukuh dan kebal; mereka bisa saja mati, tapi di tengah manusia mereka sebenarnya hidup.”

 

Jumat, 03 Juni 2022

Thoriqoh Kholwatiyah

 Tarekat Khalwatiyah adalah nama sebuah aliran tarekat yang berkembang di Mesir. Pada umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati, pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H).

Tarekat Khalwatiyah dibawa ke Mesir oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal DamaskusSyria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).

Kamis, 02 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Sammaniyah

 

Bismillahirrahmaanirrohim

1.     Allah S.W.T (Rabb al-’Izzah)

2.     Jibril A.S.

3.     Nabi Muhammad S.A.W.

4.     Ali ibn Abi Thalib r. a. Karamullah Wajhahu

5.     Imam Hasan Al-Basri r.a

6.     Shaikh Habib Al-Ajami

7.     Syaikh Daud al-Tha’i.

8.     Syaikh Ma’ruf al-Karahi.

9.     Syaikh Sirri al-Saqthi.

10. Syaikh Junaid al-Baghdadi.

11. Syaikh Muhammad Addainuri

12. Syaikh Muhammad al-Bakri.

13. Syaikh Wajihuddin al-Qath’i.

14. Syaikh Umar al-Bakri.

15. Syaikh Annajib al-Syahrawardi atau Abd al-Qahir diya ad-Din as-Suhrawardi

16. Syaikh Qutubuddin al-Abhari

17. Syaikh Rukunuddin Muhammad an-Najasyi

18. Syaikh Sihabuddin al-Tabrizi

19. Syaikh Jamaluddin al-Ahwari

20. Syaikh Abil Haqqi Ibrahim al-Zuhdi al-Kailani atau Abi Ishaq Ibrahim al-Kailani

21. Syaikh Akha Muhamad al-Basi/al-Balisi

22. Pir Umar al-Khalwati

23. Syaikh Amir al-Khalwati atau Muhammad Miram al-Khalwati

24. Syaikh Izuddin

25. Pir Sadruddin

26. Syaikh Abu Zakaria al-Bakuzy

27. Syaikh Muhammad Annahari

28. Syaikh Halabi Sultan Ulkarro atau Jamal al-Khalwatiyah

29. Syaikh Muhammad Addin al-Qustumuni

30. Syaikh Ismail al-Jarawi

31. Syaikh Mustafa Afandi Adranawy

32. Syaikh Abdul Latif

33. Syaikh Mustafa al-Bakri

34. Syaikh Muhammad Samman al-Qadri al-Khalwatiyah Qaddasahu Ruhahu

35. Syaikh Hasbi

36. Syaikh Abu al-Hasan

37. Syaikh Muhammad Amin ibn Muhammad Ridwan al-Madinah al-Munawwarah

38. Syekh Abdurrahman al-Khalidi

39. Syekh Muda Abdul Qadim Balubus

 

40. Syekh Muda Ahmad Arifin

 

ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...