Senin, 06 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Qodariyah

 

Silsilah Tharîqah Qâdiriyah adalah sebagai berikut:

(1) Allâh Swt,
(2) Jibril As,
(3) Sayyidina Muhammad Saw.,
(4) Sayyidina Ali ibn Abi Thâlib,
(5) Sayyidina Hasan ibn Ali,
(6) Sayyidina Husain ibn Ali,
(7) Syaikh Ali Zainal Abidin,
(8) Syaikh Muhammad al-Baqir,
(9) Syaikh Imam Ja’far al-Shâdiq,
(10) Syaikh Musa al-Kazhim,
(11) Syaikh Ali ibn Musa al-Ridha,
(12) Syaikh Ma’ruf ibn Fairuz al-Karkhi,
(13) Syaikh Sari al-Saqathi,
(14) Syaikh Abu al-Qasim Junaidi al-Baghdadi,
(15) Syaikh Abu Bakar al-Syibli,
(16) Syaikh Abdul Wahid al-Tamimi,
(17) Syaikh Abu al-Farraj al-Tursusi,
(18) Syaikh Abu al-Hasan Ali al-Hakari,
(19) Syaikh Abu Sa’id Mubarak al-Makhrumi,
(20) Syaikh Abdul Qodir al-Jailani,
(21) Syaikh Abdul Aziz,
(22) Syaikh Muhammad al-Hattaq,
(23) Syaikh Syamsuddin,
(24) Syaikh Syarofuddin,
(25) Syaikh Zainuddin,
(26) Syaikh Nuruddin,
(27) Syaikh Waliyuddin,
(28) Syaikh Hisyamuddin,
(29) Syaikh Yahya,
(30) Syaikh Abu Bakar,
(31) Syaikh Abdul Rahim,
(32) Syaikh Utsman,
(33) Syaikh Kamaluddin,
(34) Syaikh Abdul Fatah,
(35) Syaikh Murad,
(36) Syaikh Syamsuddin (Makkah),
(37) Syaikh Ahmad Khatib Sambas (w. 1307/1878 di Makkah),

Sumber: Tsamrah al-Fikriyah, halaman: 25.

Al-Kurdy (Syaikh Muhammad Amin al-Kurdy: 1994), Said (2003,37-38), dan Aqib (2004, 125-126) menyebutkan nama-nama tharîqah dari silsilah Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib RA. Intinya sebagai berikut:

1.   Pengamal tharîqah setelah Sayyidina Ali Ibnu Thâlib Ra. wafat disebut golongan “Alawiyah”, yaitu silsilah nomor 4, sampai pada periode Abu Qâshim Junaidi al-Baghdadi.

2.   Setelah Abu Qashim wafat sampai periode Syaikh Abdul Qâdir Jailani yaitu nomor 19, disebut golongan pengamal “Junaidiyah” atau “Baghdadiyah”.

3.   Setelah Syaikh Abdul Qâdir Jailani sampai dengan masa Syaikh Ahmad Khatib Sambas, yaitu silsilah nomor 34, disebut dengan tharîqah “Qâdiriyah”.

4.   Setelah Syaikh Ahmad Khatib wafat, tharîqah yang dipegangi disebut tharîqah “Qâdiriyah wa Naqsyabandiyah”.

 

Minggu, 05 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Naqsabandiyah Al-Kholidiyah



Silsilah Al Masyayikh Toriqoh An Naqsyabandiyyah  Al Kholidiyyah Al Mujaddadiyyah  Punggur Lampung Tengah

1. Allah SWT

2. Malaikat Jibril AS

3. Nabi Muhammad SAW

4. Sahabat Abu Bakar As Sidiq RA

5. Sayyidina Salman Al Farisi

6. Syeh Qosyim Ibnu Muhammad

7. Syeh Ja’far Sodiq

8. Syeh Abu Yazid Al Bustomi

9. Syeh Abu Hasan Al Khirqoni

10. Syeh Abu ‘Ali Al Fadhol

11. Syeh Yusuf Al Hamdani

12. Syeh Abdul Kholiq Al Fakhdawani

13. Syeh ‘Arif Riwikari

14. Syeh Ahmad Anjairi Fa’nawi

15. Syeh ‘ali Romitani

16. Syeh Babas Samasi

17. Syeh Amirul Kilal

18. Syeh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi

19. Syeh A’laudin Al Ator

20. Syeh Ya’qub Al Jarkhiyu

21. Syeh ‘Ubaidullah Ahror

22. Syeh Muhammad Zahid

23. Syeh Khowajah Muhammad Darwisy

24. Syeh Maulal Karim

25. Syeh Baqi Billah

26. Syeh Faruqy Sirhindi

27. Syeh Muhammad Ma’sum

28. Syeh Syaifudin

29. Syeh Muhammad Nur Badwani

30. Syeh Habibullah Jana Janan

31. Syeh ‘Abdullah Dahlawi

32. Syeh Kholid Baghdadi

33. ‘Abdullah Efendi Al Makiy

34. Syeh Sulaiman Efendi Al Quraimy

35. Syeh Isma’il Al Barusiyu

36. Syeh Sulaiman Eendi Az Zuhdi Sohib Majmu’atir Rosa’il

37. Syeh ‘Ali Ridho Makkah Jabal Abi Qubais

38. Syeh Muhammad Yahya Baron

39. Syeh Muhammad Umar Sufyan Baron

40. Syeh Al Hajj ‘Ali Hasyim Punggur

41. Syeh Al Hajj Muhammad Muhtar Ibnu Imam Ghozali Shohibul Ma’had Baitul Mustaqim

 

Untuk versi Arab ataupun Nadhoman sudah admin sertakan di atas. Dan Silsilah ini tertulis pada tanggal 4 Februari 2019. Jika ada perubahan atau kesalahan segera admin perbaiki. Semoga bermanfaat dan terimakasih, Wassalam Wr. Wb


Thoriqoh Ash-Shadziliyah

 

Thoriqoh Ash-Sadziliyah

Pendiri

Tarekat Syadziliyah didirikan oleh Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Nama Lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim bin Qushay bin Yusuf bin Yusya' bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Abu Muhammad Hasan bin Ali Kwj. dan Fatimah binti Rasulullah 

Nama beliau adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, Julukanya adalah Abul Hasan dan nisbat kelahirannya adalah Asy Syadzili. al-Syadzili lahir di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah pada tahun 593 H (1197 M). menghapal al-Quran dan pergi ke Tunis ketika usianya masih sangat muda. Ia tinggal di desa Syadzilah. Oleh karena itu, namanya dinisbatkan kepada desa tersebut meskipun ia tidak berasal dari desa tersebut

Dasar

Secara pribadi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa, dan hizib. Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari atau nama lengkapnya Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari]] (658 - 709 H )/ (1260 - 1309 M) [3] adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.

Melalui sirkulasi karya-karya Ibnu Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.

Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh Al-Ghazali dan Abu Talib al-Makki atau al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid Al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, mewarisi anda ilmu. Sementara Kitab Qut al-Qulub, karya Abu Talib al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atha'illah.

 

Sabtu, 04 Juni 2022

Kisah Ma'ruf Al-Karhi

 





Nama lengkapnya adalah Ma’ruf bin Faizan Abu Mahfudz al-Ibid bin Firus al-Karkhi. Ia adalah seorang ulama sufi yang dikenal dengan al-Karkhi, sebuah nama yang dinibatkan kepada nama tempat kelahirannya.

Dalam buku terbarunya yang berjudul “Allah dan Alam Semesta”, Prof KH Said Aqil Siroj menjelaskan hampir semua sumber-sumber sejarah yang ada sepakat bahwa Ma’ruf al-Karkhi adalah orang pertama yang membakukan dasar pengertian tasawuf.

Menurut Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah merengkuh segenap hakikat Ilahi, dan berpaling serta menanggalkan segenap yang ada di tangan makhluk. Dari definisi ini, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi menempatkan tasawuf sebagai wasilah atau instrumen mencapai ma’rifah atau pengetahuan esoteris. Subyek atau aktor ma’rifah sendiri disebut al-‘arif.

Dalam pandangan Ma’ruf al-Karkhi, tasawuf adalah kecenderungan metafisis yang didambakan setiap jiwa manusia untuk mencapai tingkat fana dan bersatu (ittihad) dengan Yang Bersifat Ilahi. Selain itu, tasawuf juga adalah zuhud atau praktik asketisme.

“Singkatnya, dalam pandangan Ma’ruf, tasawuf adalah ma’rifah dan zuhud,” tulis Said Aqil.

Selain itu, menurut Said Aqil, Ma’ruf al-Karkhi juga dikenal sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan satu bentuk tarekat dalam tasawuf. Ia juga yang pertama mengangkat ide tentang al-wilayah (mabuk spiritual) karena kecintaan kepada Allah SWT, dan ia merasa baru sadar setelah bersua dengan-Nya.

Dengan pula Ma’ruf al-Karkhi melihat bahwa fana-nya orang-orang bertakwa adalah sebuah keabadian dan kematian mereka adalah sebuah kehidupan, sebagimana diungkap dalam syairnya, “Kematian orang-orang bertakwa adalah sebuah kehidupan yang kukuh dan kebal; mereka bisa saja mati, tapi di tengah manusia mereka sebenarnya hidup.”

 

Jumat, 03 Juni 2022

Thoriqoh Kholwatiyah

 Tarekat Khalwatiyah adalah nama sebuah aliran tarekat yang berkembang di Mesir. Pada umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati, pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H).

Tarekat Khalwatiyah dibawa ke Mesir oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal DamaskusSyria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).

Kamis, 02 Juni 2022

Silsilah Thoriqoh Sammaniyah

 

Bismillahirrahmaanirrohim

1.     Allah S.W.T (Rabb al-’Izzah)

2.     Jibril A.S.

3.     Nabi Muhammad S.A.W.

4.     Ali ibn Abi Thalib r. a. Karamullah Wajhahu

5.     Imam Hasan Al-Basri r.a

6.     Shaikh Habib Al-Ajami

7.     Syaikh Daud al-Tha’i.

8.     Syaikh Ma’ruf al-Karahi.

9.     Syaikh Sirri al-Saqthi.

10. Syaikh Junaid al-Baghdadi.

11. Syaikh Muhammad Addainuri

12. Syaikh Muhammad al-Bakri.

13. Syaikh Wajihuddin al-Qath’i.

14. Syaikh Umar al-Bakri.

15. Syaikh Annajib al-Syahrawardi atau Abd al-Qahir diya ad-Din as-Suhrawardi

16. Syaikh Qutubuddin al-Abhari

17. Syaikh Rukunuddin Muhammad an-Najasyi

18. Syaikh Sihabuddin al-Tabrizi

19. Syaikh Jamaluddin al-Ahwari

20. Syaikh Abil Haqqi Ibrahim al-Zuhdi al-Kailani atau Abi Ishaq Ibrahim al-Kailani

21. Syaikh Akha Muhamad al-Basi/al-Balisi

22. Pir Umar al-Khalwati

23. Syaikh Amir al-Khalwati atau Muhammad Miram al-Khalwati

24. Syaikh Izuddin

25. Pir Sadruddin

26. Syaikh Abu Zakaria al-Bakuzy

27. Syaikh Muhammad Annahari

28. Syaikh Halabi Sultan Ulkarro atau Jamal al-Khalwatiyah

29. Syaikh Muhammad Addin al-Qustumuni

30. Syaikh Ismail al-Jarawi

31. Syaikh Mustafa Afandi Adranawy

32. Syaikh Abdul Latif

33. Syaikh Mustafa al-Bakri

34. Syaikh Muhammad Samman al-Qadri al-Khalwatiyah Qaddasahu Ruhahu

35. Syaikh Hasbi

36. Syaikh Abu al-Hasan

37. Syaikh Muhammad Amin ibn Muhammad Ridwan al-Madinah al-Munawwarah

38. Syekh Abdurrahman al-Khalidi

39. Syekh Muda Abdul Qadim Balubus

 

40. Syekh Muda Ahmad Arifin

 

Selasa, 31 Mei 2022

Kisah Ali Bin Abi Tholib

 Melihat dari garis keturunan kedua ayah ibunya, Ali merupakan keturunan berdarah Hasyimi yang dikenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, pemegang kepemimpinan masyarakat, dan memiliki sejarah cemerlang di masyarakat Mekkah.


Ibunya memberi nama Haidarah (macan) pada Ali, diambil dari nama kakek Ali, Asad. Dengan harapan, anaknya dapat tubuh menjadi seorang laki-laki pemberani. Namun, ayahnya memberinya nama Ali (yang leluhur), hingga sekarang nama Ali-lah yang lebih dikenal masyarakat luas.

Ali bin Abi Thalib telah memeluk Islam sejak ia masih kecil, bahkan dari buku tulisan Mustafa Murrad, ia bisa disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam.

Rasulullah SAW telah mengasuh, mendidik, dan mengajarinya sejak kecil. Kasih sayang dan kemuliaan Rasulullah SAW inilah yang membentuk karakter Ali saat dewasa.

Semasa hidupnya, Ali hidup dengan sederhana. Ia cukup makan dengan lauk cuka, minyak, dan roti kering yang dipatahkan dengan lututnya.

Pakaian yang digunakan Ali juga pakaian yang kasar, yakni pakaian ala kadarnya untuk menutupi tubuh saat cuaca panas dan terpaan hawa dingin, seperti yang dikutip dari tulisan Sayyid Ahmad Asy-Syalaini dalam bukunya yang berjudul Kumpulan Khotbah Ali Bin Abi Thalib.

Bahkan di rumahnya, tidak telihat sebuah kasur sama sekali atau pun bantal tempatnya untuk berbaring.


Melansir dari buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib karya Mustafa Murrad, sebagai pemimpin, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang senantiasa berakhlak baik, bahkan sejak ia masih anak-anak. Ia pun suka berkeliling sekadar untuk menantikan siapa pun yang menghampirinya guna meminta bantuan atau bertanya padanya.

Pada sebuah siang yang terik, orang-orang di pasar sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tibalah seorang Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya.

Ia berjalan mengelilingi pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh penulis Zaidan, Ali bin Abi Thalib memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Biasanya ia menasihati orang yang tersesat, menunjukkan arah kepada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, hingga menasihati para pedagang dan penjual sayur.

Ali bersikap zuhud dari dunia karena ia merasa hari-hari di dunia hanyalah sekejap.

Dikisahkan pada suatu malam yang dingin, Ali tidak menggunakan sehelai selimut yang tebal. Seorang laki-laki mendapati tubuh Ali menggigil seperti demam dan hanya mengenakan selimut beludru yang rusak. Laki-laki itu kemudian berkata,

"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menerapkan bagimu dan keluargamu bagian dari Baitul Mal, tetapi aku melihatmu menggigil karena berselimut beludru butut?"

Kemudian Ali menjawab, "Demi Allah, aku tak mau sedikit pun mengambil harta kalian (kaum muslim), dan kain beludru ini aku bawa dari rumahku."

Dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Abu Ghissin, seorang budak, Ali pernah terlihat membeli pakaian murah pada seorang pedagang pakaian. Kemudian Ali mengenakan pakaian yang dibelinya tersebut, ternyata panjangnya hanya sampai tengah betisnya.

Baca artikel detikedu, "Kisah Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat" selengkapnya 
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5542309/kisah-sahabat-nabi-ali-bin-abi-thalib-pemimpin-yang-dekat-dengan-rakyat.


ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...