Selasa, 31 Mei 2022

Kisah Ali Bin Abi Tholib

 Melihat dari garis keturunan kedua ayah ibunya, Ali merupakan keturunan berdarah Hasyimi yang dikenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, pemegang kepemimpinan masyarakat, dan memiliki sejarah cemerlang di masyarakat Mekkah.


Ibunya memberi nama Haidarah (macan) pada Ali, diambil dari nama kakek Ali, Asad. Dengan harapan, anaknya dapat tubuh menjadi seorang laki-laki pemberani. Namun, ayahnya memberinya nama Ali (yang leluhur), hingga sekarang nama Ali-lah yang lebih dikenal masyarakat luas.

Ali bin Abi Thalib telah memeluk Islam sejak ia masih kecil, bahkan dari buku tulisan Mustafa Murrad, ia bisa disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam.

Rasulullah SAW telah mengasuh, mendidik, dan mengajarinya sejak kecil. Kasih sayang dan kemuliaan Rasulullah SAW inilah yang membentuk karakter Ali saat dewasa.

Semasa hidupnya, Ali hidup dengan sederhana. Ia cukup makan dengan lauk cuka, minyak, dan roti kering yang dipatahkan dengan lututnya.

Pakaian yang digunakan Ali juga pakaian yang kasar, yakni pakaian ala kadarnya untuk menutupi tubuh saat cuaca panas dan terpaan hawa dingin, seperti yang dikutip dari tulisan Sayyid Ahmad Asy-Syalaini dalam bukunya yang berjudul Kumpulan Khotbah Ali Bin Abi Thalib.

Bahkan di rumahnya, tidak telihat sebuah kasur sama sekali atau pun bantal tempatnya untuk berbaring.


Melansir dari buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib karya Mustafa Murrad, sebagai pemimpin, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang senantiasa berakhlak baik, bahkan sejak ia masih anak-anak. Ia pun suka berkeliling sekadar untuk menantikan siapa pun yang menghampirinya guna meminta bantuan atau bertanya padanya.

Pada sebuah siang yang terik, orang-orang di pasar sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tibalah seorang Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya.

Ia berjalan mengelilingi pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh penulis Zaidan, Ali bin Abi Thalib memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Biasanya ia menasihati orang yang tersesat, menunjukkan arah kepada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, hingga menasihati para pedagang dan penjual sayur.

Ali bersikap zuhud dari dunia karena ia merasa hari-hari di dunia hanyalah sekejap.

Dikisahkan pada suatu malam yang dingin, Ali tidak menggunakan sehelai selimut yang tebal. Seorang laki-laki mendapati tubuh Ali menggigil seperti demam dan hanya mengenakan selimut beludru yang rusak. Laki-laki itu kemudian berkata,

"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menerapkan bagimu dan keluargamu bagian dari Baitul Mal, tetapi aku melihatmu menggigil karena berselimut beludru butut?"

Kemudian Ali menjawab, "Demi Allah, aku tak mau sedikit pun mengambil harta kalian (kaum muslim), dan kain beludru ini aku bawa dari rumahku."

Dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Abu Ghissin, seorang budak, Ali pernah terlihat membeli pakaian murah pada seorang pedagang pakaian. Kemudian Ali mengenakan pakaian yang dibelinya tersebut, ternyata panjangnya hanya sampai tengah betisnya.

Baca artikel detikedu, "Kisah Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat" selengkapnya 
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5542309/kisah-sahabat-nabi-ali-bin-abi-thalib-pemimpin-yang-dekat-dengan-rakyat.


Minggu, 29 Mei 2022

Kisah Abdurrahman Bin Auf

 

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Rasulullah yang terlanjur kaya, sehingga sering disindir oleh Rasulullah, bahwa Abdurrahman akan masuk surga dengan berjalan merangkak.

Para sahabat penasaran ketika mendengar perkataan Rasulullah ini. "Kenapa dia masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lainnya yang berjalan super kilat pada waktu masuk surga?" Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sebab dia terlalu kaya."

Abdurrahman bin Auf sering menangis teringat sabda Rasulullah ini. Beliau sering berdoa: "Jadikan aku ini miskin! Aku ingin seperti Masab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal dunia. Masab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya terbuka. Ya Allah!!" rintihnya.

Abdurrahman bin Auf ditakdirkan menjadi orang kaya selama hidupnya. Beliau sering berkonsultasi kepada Rasulullah: bagaimana supaya dirinya dapat masuk ke surga minimal berjalan kaki, tidak merangkak. Jawab Rasulullah: "Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan untuk masuk surga!"

Dalam catatan sejarah, pada akhir hayatnya Abdurrahman bin Auf berwasiat membagi hartanya menjadi 3 bagian: 1/3 dibagikan untuk modal usaha sahabatnya; 1/3 untuk melunasi hutang-hutangnya; dan 1/3 lagi untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Semua dilakukan untuk meringankan langkahnya memasuki pintu surga.

Dikutip dari Islampos.com, Abdul Rahman bin Auf RA berusaha keras agar bisa menjadi miskin. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga setara kurma yang bagus.

Sahabat gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf juga gembira sebab berharap jatuh miskin.

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah kurma busuk.

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar. Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin, tapi selalu gagal.

Benarlah firman Allah: “Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian.” (QS. Adz Dzariat, 22).

Dilansir dari Republika.co.id, Abdurrahman bin Auf pernah memberikan dagangannya sebanyak 700 ekor unta untuk dibagikan pada penduduk Madinah. Ia juga berwasiat agar setiap Muslim yang ikut Perang Badar yang masih hidup diberi 400 dinar dari hartanya.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat Rasulullah yang “gagal miskin”. Karena takut masuk surga dengan merangkak, ia makin gencar membelanjakan hartanya di jalan Allah. Alih-alih hartanya berkurang karena disedekahkan, yang ada malah terus bertambah.

Bahkan tercatat saat Abdurrahman bin Auf saat wafat masih meninggalkan harta sebesar 2.560.000 dinar (setara Rp 3.072 triliun).

Sahabat lain yang juga “gagal miskin” adalah Utsman ibn Affan. Kekayaan menantu Rasulullah SAW ini sangat fantastis. Bukan dari jumlahnya, namun yang mencengangkan, harta itu masih abadi dan terus bertambah, bahkan 14 abad setelah wafat.

Suatu kali Ustman mewaqafkan kebun beserta isinya 1.500 batang pohon kurma. Kebun ini terus menghasilkan dan terkelola dengan baik, sekalipun penguasa wilayah Madinah silih berganti.

Hingga kini kebun dan tanah waqaf itu berada di bawah pengawasan Departemen Pertanian Arab Saudi. Sebagian dana itu lalu dikelola dengan dibangun hotel bintang lima di samping Masjid Utsman Bin Affan, di kawasan Markaziyah.

Hingga hari ini, tercatat saldo di rekening atas nama Utsman ibn Affan mencapai Rp 2.532.942.750.000 dengan pertambahan nilai 50 juta riyal atau setara dengan Rp 16 miliar per tahunnya. (C)

 

Sabtu, 28 Mei 2022

Kisah Nuaiman Sahabat Nabi

 

Dia memiliki watak yang jahil dan kreatif, sehingga yang berada di dekatnya bisa tertawa bahagia. Meskipun wataknya lucu, Nu’aiman juga merupakan seorang mujahid sejati. Dia tercatat sebagai Ashabul Badr, pejuang yang pernah mengikuti perang Badar bersama Rasulullah.

Nu’aiman juga banyak melakukan hal-hal konyol dan jahil yang mampu membuat Rasulullah dan sahabat lainnya tidak kuat menahan tawa. Target keusilannya bukan hanya para sahabat, tapi juga Rasulullah SAW.

Karena itu, Rasulullah pernah berkata, “Nu’aiman akan masuk surga sambil tertawa, karena ia sering membuatku tertawa.”

Dalam salah satu kisahnya diceritakan, suatu ketika Nu’aiman melihat penjual madu yang kepanasan dan keletihan setelah berkeliling menajajakan madunya di Madinah. Namun, tidak satu pun dagangannya terjual. Nu’aiman lalu menjumpai penjual madu itu dan diajaknya menuju rumah Rauslullah SAW.

Setelah mendekati rumah Rasulullah, Nu’aiman menyuruh penjual madu menunggu seraya membawa sebotol madu untuk diberikan kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah aku tahu engkau suka madu. Oleh karena itu aku berikan madu ini untukmu sebagai hadiah,” kata Nu’aiman.

Sepintas Nu’aiman senyum-senyum sendiri. Lalu, ia menjumpai penjual madu itu dan mengatakan, “Aku akan pergi karena masih ada urusan. Sebentar lagi penghuni rumah itu akan keluar dan membayar harga madu itu,” ucap Nu’aiman.

Sang penjual pun merasa senang karena dagangannya akhirnya laku. Dia cukup lama menunggu, tapi tak seorang pun yang keluar dari rumah itu. Akhirnya, penjual madu itu mengetuk pintu rumah Rasulullah.

“Wahai penghuni rumah bayarlah harga maduku,” katanya.

Rasulullah SAW yang ada di dalam rumah pun terkejut. Tapi, Rasulullah langsung menyadari perbuatan Nu’aiman yang sedang ingin membuat lelucon. Tanpa berkata apa pun, Rasulullah Saw menemui penjual madu dan membayar harga madu itu.

Ketika Rasulullah bertemu dengan Nu’aiman di kemudian hari, beliau tersenyum dan berkata, ”Apa yang telah engkau lakukan terhadap keluarga Nabimu, wahai Nu’aiman?” kata Rasulullah.

Sambil tersenyum, Nu’aiman menjawab, “Ya Rasulullah, aku tahu engkau suka sekali menikmati madu. Tapi aku tidak punya uang untuk membeli dan menghadiahkan kepadamu. Maka, aku mengantarkan saja kepadamu dan semoga aku mendapat taufiq ke arah kebaikan,” ucap Nu’aiman.

 

Jumat, 27 Mei 2022

Kisah Nabi Uzair

 

Seorang hamba Allah melewati satu negeri yang kosong tanpa penduduk dan telah runtuh setelah kehancuran Nebukadnezar. Kemudian hamba itu berkata: "Bagaimana Allah akan menghidupkan negeri ini kembali setelah mati?" Maka Allah menidurkannya selama 100 tahun lalu menghidupkannya kembali. Kisahnya diabadikan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an.

Hamba Allah yang dimaksud ialah Uzair. Al-Qur'an tidak menyebutnya sebagai Nabi, namun para ulama menyatakan bahwa Uzair adalah seorang Nabi di antara 313 orang Rasul utusan Allah. Ibnu Katsir mengatakan, pendapat yang masyhur menyatakan Uzair adalah seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil. Riwayat lain menyebut beliau adalah seorang pemuka agama dari Bani Israel yang hidup sebelum kelahiran Nabi Isa 'alahissalam. Berikut firman-Nya: اَوۡ كَالَّذِىۡ مَرَّ عَلٰى قَرۡيَةٍ وَّ هِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا‌ۚ قَالَ اَنّٰى يُحۡىٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَا‌ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ‌ؕ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَ‌ؕ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٍ‌ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَةَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡ‌ۚ وَانْظُرۡ اِلٰى حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ‌ وَانْظُرۡ اِلَى الۡعِظَامِ كَيۡفَ نُـنۡشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوۡهَا لَحۡمًا ‌ؕ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ "Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?" Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, "Berapa lama engkau tinggal (di sini)?" Dia (orang itu) menjawab, "Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Tidak! Engkau telah tinggal 100 tahun.

Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, "Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Baqarah Ayat 259) Nabi Uzair dihidupkan kembali setelah 100 tahun tertidur.

Allah menghidupkan kembali jasadnya sebagaimana sebelum beliau tertidur. Nabi Uzair bertemu ahli keluarga dan masyarakat. Setelah itu beliau menunggang keledai dan pergi ke rumahnya sendiri yang ditinggalkannya 100 tahun dahulu dan menemui seorang wanita buta yang berusia 120 tahun. Beliau bertanya kepadanya, adakah rumah itu kepunyaan Uzair? Wanita itu mengiyakannya dan menyatakan bahwa Uzair sudah dilupakan orang.

Akhirnya, beliau meyakinkan wanita itu bahwa dirinya adalah Uzair. Wanita itu pun mengumumkan kepada orang ramai (kaum Yahudi) bahwa Uzair sudah kembali. Uzair pun didatangi anaknya sendiri yang berusia 118 tahun. Sewaktu beliau ditidurkan, anaknya berusia 18 tahun. Lalu anaknya mengatakan bahwa ayahnya dulu memiliki tanda kelahiran di antara dua bahunya. Beliau pun menunjukkan tanda kelahiran itu.


kisah jaalut dan taalut

 



Setelah berlalu masa yang cukup panjang, sepeninggal Musa عليه السلام, Bani Israil semakin jauh dari Taurat. Mereka semakin berpaling dari syariat. AIlah سبحانه وتعالى pun timpakan kehinaan berupa kaum zalim yang menindas Bani Israil. Hingga mereka terusir dari negeri-negeri mereka.

 

Demikian itulah sunnatullah, kehinaan tidak akan menimpa suatu kaum, kecuali dengan sebab mereka berpaling dari syariat Allah. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Q.S. Ar Ruum: 41].

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

 

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ،

وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ  عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم

 

”Jika kalian telah berjual beli dengan riba, dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi serta ridha dengan kebun kebun, (yakni terlena dengan dunia dan melupakan akhirat), dan kalian tinggalkan jihad, sungguh Allah akan kuasakan kehinaan atas kalian. Dan tidak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [H.R. Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami'].

 

Di masa itu, Bani Israil tertindas. Hingga datanglah seorang Nabi di tengah mereka. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa beliau adalah Nabi Samuel. Ada yang berpendapat dia adalah Yusya' bin Nun. Ada lagi yang mengatakan dia adalah Syam'uun. 

 

Siapa sejatinya nabi tersebut? Allahu a'lam, hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyebutkan nama. Yang pasti, Al-Quran tidak menyebutkan. Sama halnya dengan Ashabul Kahfi. Kisahnya masyhur, namun tidak seorang pun dari pemuda-pemuda beriman itu Allah sebut namanya dalam Al-Quran.

 

Bani Israil menyadari bahwa kemuliaan tidak akan terwujud melainkan dengan menegakkan syariat Allah. Mereka menyadari kemuliaan tidak akan kembali kecuali dengan jihad fi sabilillah. 

 

Beberapa pembesar Bani Israil menjumpai sang Nabi, meminta agar dipilih raja di antara mereka untuk memimpin Bani Israil menegakkan jihad fisabilillah. Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ

 

”Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, ”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” [Q.S. AI Baqarah: 246].

 

Dengan penuh kelembutan dan kearifan, Nabi tersebut mengingatkan Bani Israil dari penyimpangan. Beliau mengkhawatirkan Bani Israil akan berpaling ketika syariat Jihad Allah wajibkan.

 

قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ 

 

”Nabi mereka menjawab, ’Mungkin sekali jika kalian nanti diwajibkan berperang, kalian tidak akan berperang."

 

Dengan semangat yang menggelora, Bani Israil menyatakan kemustahilan mereka akan berpaling. 

 

قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ 

 

”Mereka menjawab, "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?”

 

Benar firasat Sang Nabi. Semangat Bani Israil hanyalah letupan sesaat. Ketika datang kewajiban Jihad fi sabilillah, Bani Israil berpaling dari kewajiban, kecuali sebagian kecil dari mereka.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman: 

 

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

 

"Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim.” 

[Q.S. AI Baqarah: 246].

Kamis, 26 Mei 2022

Kisah Rabiatul Adawiyah

 

Rabiah Basri atau lebih dikenali sebagai Rabiah al-Adwiyah atau Rabiatul Adawiyah adalah antara salah seorang wanita yang awal memeluk agama Islam. Beliau telah meninggalkan segala-galanya yang bersifat duniawi dan mengabadikan sepenuhnya dirinya kepada Allah سبحانه وتعالى.

 

Rabiatul Adawiyah telah dilahirkan dalam sebuah keluarga yang miskin. Mempunyai empat orang adik beradik. Kelahirannya telah diliputi bermacam-macam cerita yang pelik.Pada malam beliau dilahirkan, di rumahnya tidak mempunyai apa-apa bahkan minyak untuk menyalakan lampu pun tiada. Malahan sehelai kain untuk membalut dirinya apabila dilahirkan kelak juga tidak ada.

 

Ibu Rabiah meminta ayahnya supaya meminjam pelita minyak daripada jiran mereka. Ini merupakan cubaan bagi si ayah yang malang itu.

 

Sebelum itu ayahnya telah berjanji kepada Allah سبحانه وتعالى untuk tidak meminta pertolongan dari sesiapa. Oleh kerana keadaan terdesak maka ayahnya pun terpaksa pergi juga ke rumah jirannya.

 

Sebaik saja tiba di rumah jirannya, ayahnya terus mengetuk pintu rumah jirannya itu. Malangnya tiada jawapan pun dari dalam rumah itu. ayahnya berasa lega dan mengucap syukur kepada Allah سبحانه وتعالى kerana tidak ingkar pada janjinya. Kemudian ayahnya pun pulang ke rumahnya dan terus tidur dipembaringan.

 

Pada malam itu ayahnya bermimpi bertemu Nabi Muhammad . Dalam mimpinya itu Nabi Muhammad  telah memberikan tanda kepadanya dengan menyatakan bahawa anaknya yang bakal  dilahirkan itu telah ditakdirkan akan menduduki tempat paling tinggi di sisi Allah سبحانه وتعالى.

 

Tidak berapa lama selepas Rabiatul Adawiyah dilahirkan kedua-dua ibu bapanya telah meninggal dunia, manakala ketiga-tiga orang kakaknya turut meninggal dunia akibat kelaparan yang melanda Basra ketika itu. Rabiatul kemudiannya dipelihara oleh seorang lelaki yang kejam.

 

Seterusnya Rabiah telah dijual sebagai hamba dengan harga yang rendah kepada majikan yang sangat bengis. Dalam usia yang masih muda, beliau telah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala perintah tuannya. Manakala sebelah malamnya beliau sentiasa berdoa ke hadrat IIiahi.

 

Pada suatu malam, majikannya telah melihat tanda kebesaran rohani Rabiatul Adawiyah iaitu ketika Rabiah berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى  katanya:

“Ya Allah! Dikau telah menjadikan aku budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabadikan diriku kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku akan persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepada-Mu”.

 

Tiba-tiba sebaik saja Beliau selesai berdoa, ternampak satu cahaya mendekati kepalanya. Melihat kejadian itu majikannya menjadi terlalu takut. Keesokan harinya Rabiah telah dimerdekakan.

.

Memperhambakan Diri

 

Setelah dibebaskan, Rabiatul Adawiyah pergi ke tempat-tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan  bertawaduk kepada Tuhan. Akhirnya beliau sampai ke sebuah pondok berdekatan Kota Basra. Di situ beliau hidup seperti bertapa. Segulung tikar, sebuah kendi diperbuat daripada tanah, seketul batu bata. Semuanya itu merupakan harta yang dimilikinya.

 

Di pondok itu keseluruhan waktunya digunakan untuk mengabdikan diri berdoa.  Pada suatu hari beliau telah didatangi oleh sekumpulan orang bertujuan untuk meminangnya. Orang ramai itu adalah wakil kepada Gabenor Basra. Oleh kerana Rabiah terlalu sibuk mengabadikan dirinya kepada Allah سبحانه وتعالى  maka beliaupun menolak pinangan itu dengan baik.

 

Pada masa yang lain, Sufian Suri seorang soleh dan dihormati datang menemui Rabiah. Sebaik saja Beliau sampai, Rabiah terus berdoa“Ya Allah! Tuhan Yang Maha Kuasa, daku mohon harta duniawi dariMu”.

 

Mendengar isi doa itu, Rabiah pun menangis. Lantas Sufian Suri pun bertanya kenapa beliau menangis, maka Rabiah pun berkata : “Harta itu sesungguhnya didapati setelah meninggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya di dunia ini saja”.

.

Empat Puluh Dinar

 

Menurut satu riwayat, ada seorang insan telah mengirim wang sebanyak empat puluh dinar kepada Rabiah, lantas beliau pun menangis sambil mengangkat tangannya berdoa : “Dikau tahu Ya Allah! Aku tidak pernah meminta harta dunia dari Mu, meskipun Dikau pencipta dunia ini. Lalu bagaimana aku dapat menerima wang dari seseorang, sedangkan wang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya”.

 

Setiap kali Rabiah mengajar muridnya beliau sentiasa menasihati mereka agar jangan menunjukkan perbuatan baik itu kepada sesiapa pun, malahan mereka diharuskan menutup  perbuatan baik itu sebagaimana mereka menutupi perbuatan jahat mereka.

 

Segala penyakit datangnya adalah atas kehendak Allah سبحانه وتعالى  kerana itu Rabiah selalu menghadapinya dengan hati yang tabah dan berani. Rasa sakit yang bagaimanapun tidak pernah mengganggunya. Beliau seringkali tidak menyedari ada bahagian tubuhnya yang terluka sampai beliau diberitahu oleh orang lain.

 

Suatu hari Rabiatul Adawiyah telah terlanggar pokok yang menyebabkan kepalanya berdarah, kemudian seseorang telah bertanya : “Apakah anda tidak berasa sakit?”

 

Jawab Rabiah, “Aku dengan seluruh jiwa ragaku mengabdikan diri kepada Allah سبحانه وتعالى. Aku berhubung erat dengan-Nya, aku disibukkan-Nya dengan hal-hal lain daripada apa yang kamu rasakan”, jawabnya lembut.

 

Semasa hayatnya, banyak keajaiban telah dikaitkan dengan Rabiah. Antaranya, beliau mendapat makanan daripada tetamunya melalui jalan yang pelik-pelik. Diriwayatkan bahawa, ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut, Rabiah meminta teman-temannya meninggalkan beliau seorang diri. Kemudian beliau mempersilakan para utusan Allah سبحانه وتعالى datang kepadanya.

 

Sewaktu teman-temannya berjalan keluar mereka terdengar Rabiah mengucapkan syahadah, dan ada pula suara yang menjawab: “Jiwa, tenanglah, kembalilah kepada Tuhanmu, legalah, kembalilah kepada Tuhanmu, legalah hatimu pada-Nya, ini akan memberikan kepuasan kepadanya”.

 

Di antara doa-doa yang tercatat berasal dari Rabiah ialah doa yang dipanjatkannya pada waktu malam di atas bumbung rumahnya, katanya: “Oh…Tuhanku! Bintang-bintang bersinar bergemerlapan, manusia sudah tidur nyenyak dan raja-raja telah menutup pintunya, tiap orang bercinta sedang asyik dengan kesayangannya dan di sinilah aku bersendirian bersamaMu”.

 

Manakala doa lainnya : “Ya Allah! Apabila aku menyembahMu kerana takutkan neraka, bakarlah diriku di dalamnya. Bila aku menyembahMu kerana mengharapkan syurga jauhkan aku dari sana. Namun jika aku menyembah Mu hanya keranaMu, maka janganlah Dikau tutup keindahan abadiMu”.

 

Rabiatul Adawiyah telah meninggal dunia di Basra pada tahun 801 Masihi. Beliau telah dimakamkan di rumah tempat beliau tinggal. Ketika jenazahnya diusung ke perkuburan, orang-orang soleh, para sufi dan orang-orang Islam turut mengiringinya dalam jumlah yang luar biasa ramainya.

 

Cintailah Allah سبحانه وتعالى kerana Dia mencintai kita, tunaikanlah perintah Allah سبحانه وتعالى kerana Dia akan mengadili kita, buatlah sesuatu yang dituntut semata-mata kerana Allah سبحانه وتعالى  sebab yang akan menilai setiap amal adalah Allah سبحانه وتعالى.

 

Apabila kita rapat dengan Allah سبحانه وتعالى maka sudah semestinya kita akan menjadi orang kesayangan Allah سبحانه وتعالى dan semua makhluknya, dan pada hari pengadilan nanti sudah tentu Allah سبحانه وتعالى tidak akan memberatkan pertanyaan ke atas hamba-Nya yang sangat takut kepada-Nya.

 

“Ya Allah! Jauhkanlah kami daripada fahaman-fahaman Yahudi, Nasrani dan fahaman-fahaman karut yang dapat menyesatkan kami, dan selamatkanlah kamu semua di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya akhirat itulaah tempat kami dann tujuan hidup kami”.

 

ilmu tauhid

  BAB I PENDAHULUAN   Interpretasi dari makna tauhid itu sendiri adalah bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia d...